Bangkitnya kelompok baru Muhammadiyah yang progresif di bawah kepemimpinan Prabowo – Beragampengetahuan

Foto dari bingkai Hijaumu.id
Muhammadiyah mempunyai tradisi berpikir progresif dalam jajarannya sendiri.
Contohnya adalah Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), sekelompok aktivis muda di lingkungan Muhammadiyah yang menjadi berita utama pada tahun 2000-an karena menyerukan pembaruan intelektual dan reformasi Muhammadiyah, dan menentang kaum konservatif dalam kepemimpinan organisasi.
Tradisi ini bukanlah hal baru. Sejak didirikan pada tahun 1912, terdapat banyak pemimpin dan intelektual progresif yang berupaya menantang ortodoksi agama, menerapkan keadilan sosial, dan bersaing dengan faksi yang lebih konservatif dan berorientasi pada negara dalam kelompok tersebut.
Kini, perdebatan terbaru di tubuh Muhammadiyah mengenai keputusan menerima konsesi pertambangan dari pemerintahan Prabowo Subianto telah berujung pada munculnya unsur-unsur baru yang progresif di dalam organisasi tersebut.
Berbeda dengan para aktivis JIMM, kelompok progresif baru ini menganjurkan keadilan sosial dan lingkungan hidup dan sangat kritis terhadap usaha Muhammadiyah di bidang pertambangan.
Para pemerhati lingkungan ‘hijau’
Kelompok progresif terkemuka di dalam Muhammadiyah, ‘Kader Hijau Muhammadiyah’ (KHM, Kerangka Hijau Muhammadiyah), mendukung visi Islam tentang keadilan lingkungan.
Manifesto tersebut mencatat meningkatnya jumlah konflik agraria dan perusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh industri pertambangan, dan menyerukan kepada Muhammadiyah untuk ‘Kelompok ini telah meletakkan dasar bagi kesadaran lingkungan hidup yang baru di dalam tubuh Muhammadiyah, terutama melalui keterlibatannya dengan aktivis lingkungan hidup di seluruh negeri.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika anggota kelompok tersebut sangat kritis terhadap keputusan Muhammadiyah untuk melakukan kegiatan pertambangan.
David Efendi, aktivis terkemuka KHM yang kini menjabat Sekretaris Departemen Kebijakan Publik Muhammadiyah (Institut Kebijaksanaan dan Kebijakan Publik(LHKP), menyatakan bahwa penambangan batu bara telah mengakibatkan ‘jatuhnya korban jiwa dan hancurnya masa depan mereka’. Argumennya sejalan dengan seruan pemimpin veteran Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, yang mendesak Muhammadiyah untuk secara hati-hati mempertimbangkan kembali usaha pertambangannya mengingat dampak negatifnya terhadap lingkungan, sosial, dan bahkan hukum.
Aktivis KHM lainnya, Parid Ridwanuddin, juga dari LHKP, memandang penambangan batu bara sebagai ‘regresi’ (kemunduran), berbeda dengan ideologi kemajuan Muhammadiyah (kemajuan). Pasalnya, pertambangan batu bara hanya menguntungkan segelintir orang sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan dan menjadikan Muhammadi bagian dari oligarki.
Hening Parlan, Wakil Ketua Badan Penanggulangan Bencana Aisyiyah sekaligus anggota aktif jaringan KHM, juga mempertanyakan keputusan Muhammadiyah menerima konsesi pertambangan. Ia menanyakan apakah pimpinan Muhammadiyah pernah mengunjungi lokasi pertambangan, melihat lubang tambang, atau berbicara dengan orang tua yang anaknya terjatuh sebelum menerima izin pertambangan dari pemerintah. Bagi Hening, bahaya tersebut membuat Muhammad sulit mengklaim bahwa aktivitas pertambangannya akan bermanfaat bagi masyarakat.
Muda Tarjih progresif
Kontroversi pertambangan juga menyebabkan munculnya ulama-ulama muda Muhammadiyah yang aktif terlibat dalam perdebatan teologis mengenai pertambangan.
Pada tahun 2024, Jaringan Islam Liberal Liberal veteran (JIL, Jaringan Islam Liberal) aktivis dan pemimpin Nahdlatul UIama Ulil Abshar Abdalla membela konsesi pertambangan NU dalam artikel yang diterbitkan oleh Kompas sehari-hari. Dalam artikel tersebut, ia menuduh para penentang pertambangan batu bara didorong oleh sentimen ideologis dan bukan pemikiran hukum Islam yang sehat.fiqh).
Niki Alma Febriana Fauzi, dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan anggota Dewan TarjihPimpinan Pusat Keagamaan Muhammadiyah, membantah argumen Ulil. Dia telah mengkritiknya karena tidak memperhitungkan hal itu fiqh ditopang oleh landasan etika dan pedoman moral yang lebih luas, yang mencakup kewajiban untuk melindungi tidak hanya kemanusiaan dan agama, tetapi juga alam.
Itulah yang dia klaim fiqh bukan hanya soal apa yang baik atau buruk bagi masyarakat (kelebihan dan mafsadat). Berdasarkan pendekatan Muhammadiyah terhadap fiqh seperti yang dikembangkan oleh Dewan Tarjih, Ia berpendapat bahwa isu pertambangan batu bara harus dikaitkan dengan pertimbangan etika dan ideologi yang lebih luas dan sesuai dengan tujuan hukum Islam.
Penambangan tersebut, katanya, dapat ditantang berdasarkan alasan ilmiah. Bukti ilmiah telah menunjukkan dampak negatif pertambangan terhadap lingkungan. Oleh karena itu, seharusnya Muhammadiyah menolak tawaran pemerintah untuk memberikan izin pertambangan. Seperti Hening, Niki Alma menganjurkan transisi energi yang adil dari bahan bakar fosil yang kotor ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Perdebatan semacam ini juga terjadi secara internal antara para intelektual muda Muhammadiyah dengan Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir. Dalam Suara Muhammadiyah, corong organisasi tersebut, Haedar berdalih penentang izin pertambangan secara apriori menganggap penambangan sebagai aktivitas berbahaya. Pemikiran ini, kata dia, menimbulkan keyakinan subjektif yang menghalangi mereka untuk mempertimbangkan secara rasional manfaat pertambangan.
Alda Yudha, seorang cendekiawan muda Muhammadiyah yang sedang belajar di Jerman, menolak argumen Haedar, dengan mengatakan bahwa argumen tersebut tidak memperhitungkan banyaknya bukti yang menunjukkan dampak negatif pertambangan terhadap sosial dan lingkungan. Alda mencontohkan, beberapa kalangan di lingkungan Muhammadiyah telah merekomendasikan penolakan atau setidaknya menyatakan keprihatinannya terhadap izin pertambangan, termasuk dari Dewan Tarjih, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, bahkan dari cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia yang terkena dampak negatif dari praktik pertambangan.
Yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah adalah meninjau kembali perdebatan mengenai dampak konsesi pertambangan dan merenungkan ‘apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Muhammadiyah’. kata Alda. Pengembalian izin pertambangan kepada pemerintah karena pertimbangan sosial, lingkungan, dan politik, lanjutnya, sangat sejalan dengan peran Muhammadiyah sebagai pemimpin agama.
Pergeseran progresivisme?
Perdebatan mengenai konsesi pertambangan mengungkap kontur baru kemajuan baru Muhammadiyah. Para intelektual ini menentang semakin meningkatnya keberpihakan Muhammad pada elite penguasa dan mempertanyakan integritas komitmen normatif mereka terhadap keadilan sosial dan lingkungan.
Orientasi intelektual mereka lebih progresif secara lingkungan dan sosial dibandingkan dengan para intelektual JIMM lama di tahun 2000an, yang lebih fokus mengkampanyekan pembaharuan pemikiran Islam dan melawan kebangkitan konservatisme Islam, meskipun mereka mengklaim bahwa keadilan sosial adalah bagian penting dari progresivisme mereka.
Sungguh ironis bahwa anggota JIMM, yang dulunya dianggap sebagai pembawa standar tradisi progresif Muhammadi- hani, justru bungkam dalam perdebatan mengenai pertambangan. Dibandingkan dengan aktivis KHM atau lebih muda Tarjih Kalangan intelektual, aktivis JIMM jelas kurang kritis terhadap keputusan Muhammadiyah untuk terlibat dalam kegiatan pertambangan, yang bisa menunjukkan sikap konservatif mereka terhadap isu kritis ini.
Bangkitnya para intelektual yang ramah lingkungan dan berwawasan lingkungan membuat seruan JIMM untuk liberalisasi agama semakin ketinggalan jaman, apalagi beberapa tokoh terkemukanya kini sudah masuk ke jajaran petinggi Muhammadiyah.
Dengan menduduki posisi strategis di pemerintahan saat ini, para intelektual progresif baru ini dapat membentuk masa depan organisasi ini. Penentangan terhadap hubungan dekat Muhammadiyah dengan pemerintahan Prabowo akan datang dari para intelektual muda, yang memiliki pandangan kritis terhadap rezim otoriternya.
Dinamika baru mereka dapat menentukan wajah – dan nasib – Muhammadiyah selama beberapa dekade mendatang.
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Bangkitnya #kelompok #baru #Muhammadiyah #yang #progresif #bawah #kepemimpinan #Prabowo