Bagaimana target pertumbuhan 8% yang diusung Prabowo akan membentuk kebijakan fiskal Indonesia – Beragampengetahuan

Presiden terpilih Indonesia Prabowo Subianto pada Forum Ekonomi Doha pada 15 Mei 2024.
Presiden yang baru terpilih, Prabowo Subianto, telah menetapkan tujuan ambisius untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada masa jabatan pertamanya. Tujuan ini didorong oleh niat untuk mengeluarkan Indonesia dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mendorongnya ke status negara berpendapatan tinggi pada tahun 2045. Tujuan tersebut tertuang dalam dokumen kampanye Prabowo dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
Untuk mencapai tingkat pertumbuhan ini, diperlukan pengeluaran pemerintah yang jauh lebih tinggi. Intuisinya sederhana: jika belanja pemerintah saat ini sebesar Rp3.000 triliun hanya dapat mendukung pertumbuhan sekitar 5%, maka target pertumbuhan 8% akan memerlukan lebih banyak lagi.
Pilihannya
Untuk memberikan ruang bagi belanja pemerintah yang lebih tinggi, presiden terpilih memiliki dua pilihan: menetapkan target pendapatan yang ambisius, atau melonggarkan peraturan fiskal untuk memungkinkan defisit dan/atau plafon utang yang lebih tinggi. Inilah sebabnya mengapa penerapan opsi-opsi kebijakan ini akan menjadi tantangan, dan jika tidak dilakukan dengan hati-hati, bahkan dapat membahayakan stabilitas makroekonomi Indonesia yang telah lama ada.
Prabowo telah berjanji untuk meningkatkan rasio pajak terhadap PDB menjadi 16% dan rasio pendapatan terhadap PDB menjadi 23% pada masa jabatan pertamanya. Dapat dimengerti bahwa hal ini terkait dengan tingginya kebutuhan pembiayaan untuk mendukung lintasan pertumbuhan yang lebih tinggi.
Ambisi ini bukanlah hal baru. Pada tahun 2014, Presiden Joko “Jokowi” Widodo menargetkan rasio pajak terhadap PDB sebesar 16% untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 7%. Pada akhirnya, ia hanya mencapai tarif pajak rata-rata sebesar 10% dan pertumbuhan sebesar 5% selama masa kepresidenannya. Penurunan harga komoditas, terutama minyak dan batu bara, berdampak negatif terhadap perolehan pendapatan. Sebagai negara yang bergantung pada komoditas, pendapatan Indonesia sangat dipengaruhi oleh harga komoditas. Booming komoditas yang diuntungkan oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak berlanjut di bawah pemerintahan Jokowi, sehingga berdampak pada perolehan pendapatan.
Tingginya informalitas di pasar tenaga kerja, dimana hampir 60% pekerja terlibat dalam kegiatan informal, semakin mempersulit perolehan pendapatan. Alternatif terbaik untuk meningkatkan pendapatan selanjutnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Namun, sistem pemungutan PPN saat ini tidak efektif: porsi PPN dalam PDB kurang dari 4%, meskipun tarif PPN berada pada angka 11%. Hal ini menunjukkan adanya inefisiensi dalam sistem pemungutan PPN.
Tidak ada solusi mudah untuk monetisasi jangka pendek. Dalam jangka panjang, penciptaan pendapatan yang berkelanjutan memerlukan transformasi struktural menuju sektor manufaktur yang lebih kuat, yang dapat memberikan lebih banyak kesempatan kerja formal. Namun, hal ini berada di luar domain kebijakan fiskal.
Untuk mengatasi kendala dalam perolehan pendapatan saat ini, Prabowo sedang mempertimbangkan pembentukan badan pajak yang ditunjuk, Badan Pendapatan Negara (BPN). Idenya adalah dengan memisahkan BPN dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), fungsi monetisasi dapat diberikan otonomi yang lebih besar untuk menghasilkan pendapatan.
Namun hal ini dapat menimbulkan risiko defisit fiskal karena kemungkinan adanya ketidaksesuaian antara otoritas pendapatan dan otoritas belanja makro seperti Kementerian Keuangan dan Bappenas. Indonesia dikenal tidak memiliki koordinasi antar kementerian yang lancar, dan adanya lapisan birokrasi tambahan dapat memperburuk hal ini. BPN dapat menetapkan target pendapatan yang tinggi tanpa adanya komunikasi yang baik dengan otoritas pembelanjaan makro, yang akan mengakibatkan target yang tidak realistis dan potensi masalah arus kas, sehingga membahayakan stabilitas makroekonomi Indonesia.
Garis anggaran
Prabowo juga mengusulkan pelonggaran aturan fiskal Indonesia, yang saat ini membatasi rasio defisit sebesar 3% dan rasio utang sebesar 60%. Ia berpendapat bahwa untuk mencapai lintasan pertumbuhan yang tinggi, Indonesia harus mempertimbangkan untuk melonggarkan batasan yang tampaknya sewenang-wenang ini.
Prabowo benar soal rasio utang. Memang benar, rasio utang Indonesia terhadap PDB relatif rendah dibandingkan negara-negara berkembang lainnya di kawasan Asia, yang menunjukkan bahwa terdapat ruang untuk kebijakan fiskal yang lebih agresif.
Namun, hanya mengandalkan rasio utang bisa menyesatkan. Rasio keseimbangan primer terhadap PDB (pendapatan pemerintah dikurangi seluruh pengeluaran tidak termasuk pembayaran bunga) mengalami penurunan pada masa pemerintahan Jokowi bahkan menjadi negatif, dengan rata-rata sebesar -0,5% (tidak termasuk tahun 2020 dan 2021 karena meningkatnya kebutuhan anggaran selama krisis Covid 19) . hingga 0,5% di bawah SBY. Keseimbangan primer yang positif memberi suatu negara ruang untuk membayar utang dan mengurangi tingkat utang. Sebaliknya, saldo primer yang negatif menunjukkan terbatasnya ruang untuk menghasilkan lebih banyak utang karena pendapatan saat ini tidak dapat memenuhi kebutuhan belanja rutin, tidak termasuk pembayaran bunga. Porsi pendapatan pemerintah yang digunakan untuk membayar bunga utang (debt service ratio) juga meningkat, dari rata-rata 10% pada masa SBY menjadi lebih dari 14% pada masa pemerintahan Jokowi.
Aturan fiskal memastikan bahwa Indonesia hidup sesuai kemampuan dan dapat melunasi utangnya dengan baik, mengingat kendala dalam perolehan pendapatan akibat struktur pasar tenaga kerja dan harga komoditas. Pendekatan fiskal yang hati-hati telah berkontribusi terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia dalam jangka panjang, mencegah spiral krisis mata uang seperti yang terjadi di Turki dan Argentina.
Mengabaikan aturan fiskal dapat melemahkan kepercayaan pasar terhadap rupiah karena meningkatkan risiko gagal bayar utang. Hal ini dapat menyebabkan depresiasi nilai tukar rupiah, kenaikan harga-harga, dan kontraksi ekonomi karena Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Meskipun skenario ini jauh dari realistis di Indonesia, gejolak pasar terlihat jelas ketika Prabowo melontarkan gagasan menaikkan tingkat utang hingga 50% pada masa jabatan pertamanya. Hal ini dilakukannya untuk mendukung peluncuran penuh program kampanye andalannya, yaitu Program Makanan Gratis dan Bergizi. Oleh karena itu, menjaga kebijakan fiskal yang hati-hati berarti lebih banyak kepastian bagi investor, karena membantu mengendalikan inflasi.
Mengingat konteks ekonomi politik saat ini, stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal merupakan garis pertahanan terakhir Indonesia untuk melindungi kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini sangat penting karena kebijakan sektor riil akan menjadi lebih tidak menentu di bawah koalisi legislatif yang besar yang dipimpin oleh Prabowo. Tanpa adanya perlawanan yang efektif, pemerintah dapat dengan mudah mengubah peraturan dan undang-undang komersial kapan pun diperlukan. Oleh karena itu, harapan terakhir untuk menjaga kepastian terletak di tangan pengelola makroekonomi, bukan di tangan politisi.
Salah satu cara yang terbukti untuk mengumpulkan lebih banyak uang tanpa merusak stabilitas adalah dengan meningkatkan kualitas belanja. Jokowi telah berhasil mengurangi subsidi yang tidak efisien dan memberikan ruang fiskal yang sangat dibutuhkan. Pada tahun 2014, SBY memberikan ruang anggaran yang terbatas kepada Jokowi, dengan seperempat pendapatannya dihabiskan untuk subsidi. Pada tahun 2023, pangsa ini turun menjadi kurang dari 10%. Namun subsidi kembali meningkat akibat kenaikan harga komoditas.
Modal politik tinggi yang dimiliki Prabowo memberikan peluang untuk meninjau ulang belanja subsidi. Mengurangi subsidi energi agar sesuai dengan harga internasional dapat meningkatkan ruang fiskal, meskipun sedikit, karena alokasi subsidi sudah rendah. Inflasi akan meningkat untuk sementara, namun rumah tangga miskin dapat dikompensasi dengan program bantuan sementara, seperti yang telah dilakukan beberapa kali oleh Jokowi sejak tahun 2014. Hal ini akan menciptakan lebih banyak ruang fiskal dalam jangka menengah dan panjang.
Impian 8%
Yang penting, tidak semuanya suram. Jika Prabowo berhasil mengurangi subsidi energi, keseimbangan primer kemungkinan akan membaik, begitu pula kemampuan Indonesia dalam mengelola utang secara lebih berkelanjutan. Hal ini karena rasio pajak dan pendapatan kemungkinan besar tidak akan turun di bawah tingkat saat ini dalam jangka pendek hingga menengah karena harga komoditas masih akan tetap tinggi di masa mendatang.
Namun, hanya mengandalkan harga komoditas tidak akan membantu mencapai tujuan pajak dan pendapatan yang diimpikan oleh presiden terpilih. Bahkan pada masa booming pasar komoditas, rasio pajak Indonesia tidak pernah melebihi 16%.
Prabowo mampu mewujudkan impian 8%-nya. Memang benar bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkualitas untuk menyerap lapangan kerja baru dan mengurangi informalitas. Hal ini tentunya akan menentukan situasi anggaran Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
Namun kuncinya adalah mempertahankan kebijakan fiskal yang masuk akal dan menjaga peraturan fiskal tetap utuh karena hal ini tetap menjadi resep yang terbukti memberikan kepastian kepada investor. Perubahan dalam hal ini dapat membahayakan stabilitas makroekonomi dan mendorong Indonesia semakin menjauh dari jalur pertumbuhan yang lebih tinggi.
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Bagaimana #target #pertumbuhan #yang #diusung #Prabowo #akan #membentuk #kebijakan #fiskal #Indonesia