Festival Thailand Sawasdee Seoul 2024: Kisah T-pop

 – Beragampengetahuan
4 mins read

Festival Thailand Sawasdee Seoul 2024: Kisah T-pop – Beragampengetahuan

oleh Choe Chong Dae

Thailand menunjukkan bantuan kemanusiaan yang penting selama Perang Korea 1950-53 dengan menyumbangkan 11.786 tentara dan 4 ton beras untuk mendukung Pasukan Sekutu PBB. Tentara Thailand, yang dikenal sebagai “Harimau Kecil” karena keberaniannya, menghadapi kerugian yang signifikan. Namun, mereka mencapai hasil cemerlang sepanjang perang berkat kemampuan bertarung mereka yang sangat baik. Komitmen ini, yang berakar pada persahabatan dan patriotisme, juga mencerminkan pengaruh agama Buddha terhadap rasa tanggung jawab mereka.

Meski memiliki sejarah yang sama, hubungan Thailand-Korea Selatan belakangan ini menghadapi banyak tantangan, terutama di sektor pariwisata. Jumlah pengunjung asal Thailand ke Korea Selatan anjlok karena peraturan masuk yang lebih ketat dan laporan penolakan masuk melalui sistem Korea Electronic Travel Authorization (K-ETA). Meskipun K-ETA dimaksudkan untuk menyaring para pelancong guna mencegah penolakan di bandara, penerapannya telah menimbulkan kekhawatiran, memicu ketakutan akan gerakan Boikot Korea, yang dipicu oleh penyebaran Negatif di jejaring sosial.

Namun, hubungan erat antara Korea Selatan dan Thailand memberikan harapan untuk merevitalisasi hubungan mereka. Penetapan tahun 2023-2024 sebagai Tahun Kunjungan Bersama Korea-Thailand bertujuan untuk meningkatkan pertukaran pariwisata dan budaya kedua negara. Contoh utamanya adalah Thai Sawasdee Festival 2024: T-Pop Story, yang diadakan di Cheonggyecheon Plaza di Seoul pada tanggal 5-6 Oktober, untuk merayakan 65 tahun hubungan diplomatik antara Korea dan Thailand. Pertunjukan yang penuh semangat ini memperkenalkan masyarakat Korea pada tradisi Thailand yang kaya dan khas melalui musik, tarian, makanan, dan banyak lagi.

“Sawasdee”, yang mewakili kehangatan, rasa hormat, dan keramahtamahan, merupakan inti dari budaya Thailand, yang sangat bergema di masyarakat Korea. Festival ini mencerminkan semangat ini, menggabungkan beragam tradisi Thailand dengan budaya Thailand modern. Puncaknya adalah “T-Pop Story”, yang menampilkan semakin populernya musik pop Thailand, yang telah mendapatkan pengikut global. Pertunjukan musik tradisional Thailand dengan instrumen unik menawarkan perpaduan yang memukau antara suara kuno dan kontemporer, sementara pertunjukan Muay Thai menggetarkan para penggemar seni bela diri dengan menampilkan keterampilan dan disiplin.

Festival ini merupakan sebuah kesempatan yang menarik untuk menyelami warisan budaya Thailand yang dinamis, memperkuat ikatan budaya yang telah lama terjalin antara Thailand dan Korea, meskipun ada tantangan seperti penurunan pariwisata.

Bagi saya, festival ini membangkitkan nostalgia. Bertemu dengan Duta Besar Thailand Tanee Sangrat dan delegasi diplomatiknya, termasuk Kolonel Itt Thippayachan, atase pertahanan yang baru diangkat, membangkitkan kenangan indah akan dua tokoh terkenal Thailand: Mayor Jenderal Chote Klongvicha, mantan duta besar Thailand untuk Korea Selatan dan kemudian Swedia, dan Kolonel Akaphol Somloop, yang akhirnya dipromosikan menjadi jenderal bintang empat dan kepala staf Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand. Kedua pria tersebut bertugas di Korea dari akhir tahun 1960an hingga awal tahun 1970an dan merupakan teman dekat keluarga saya.

Pada tahun 1971, ketika saya masih mahasiswa baru di sebuah universitas di Seoul, saya mendapat kehormatan menghadiri resepsi Hari Angkatan Bersenjata Thailand di American Officers Club, Yongsan, atas undangan Kolonel Somloop. Acara ini memberi saya pengenalan yang tak terlupakan terhadap budaya dan adat istiadat Thailand, dan memperdalam apresiasi saya terhadap warisan Thailand.

Meski sudah lebih dari setengah abad berlalu, pengalaman itu masih membekas dalam ingatan saya hingga saat ini. Kemudian, ketika Mayor Jenderal Chote Klongvicha menjabat sebagai Duta Besar Thailand untuk Swedia, dia dengan ramah menyambut ayah saya, Choe Nam-ju, seorang pionir di bidang arkeologi Korea, untuk makan malam di istananya di Stockholm pada tahun 1975, dalam sebuah kunjungan ke Istana Kerajaan Swedia. .

Meskipun mengalami kemunduran baru-baru ini, Festival Sawasdee Thailand telah menyoroti potensi hubungan baru dan memperkuat persahabatan antara Korea dan Thailand. Meskipun pariwisata menghadapi tantangan, acara seperti festival ini mengingatkan kita akan pertukaran budaya yang langgeng. Ke depan, inisiatif seperti Tahun Kunjungan Bersama Korea-Thailand menawarkan harapan untuk memperdalam hubungan dan melestarikan sejarah dan apresiasi budaya kita bersama.

Saat kita berupaya memulihkan hubungan antara Korea dan Thailand, kita juga tidak boleh melupakan kontribusi berharga dan amal Thailand selama Perang Korea, yang menjadi landasan persahabatan saling menghormati dan memahami yang terus dimiliki oleh kedua negara hingga hari ini. Dalam semangat ini, kita harus memastikan bahwa komunitas Thailand di Korea diperlakukan dengan hormat dan perhatian yang layak mereka dapatkan.

Choe Chong-dae (choecd@naver.com) adalah kolumnis tamu untuk The Korea Times. Dia adalah ketua Perusahaan Internasional Dae-kwang, serta direktur pendiri Asosiasi Korea-Swedia.



Berita Terkini Ekonomi Korea Selatan

berita artis korea, berita korea, berita terbaru artis korea, berita terbaru korea, berita korea selatan hari ini, berita korea selatan, berita trending di korea, berita korea hari ini

#Festival #Thailand #Sawasdee #Seoul #Kisah #Tpop

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *