Kembalinya TNI secara besar-besaran ke pusat politik – Beragampengetahuan

www.menpan.go.id
Pada tanggal 5 Oktober 2024, Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan hari jadinya yang ke-79e HUT dengan meriah di kompleks Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat.
Ribuan penonton sipil berbondong-bondong menyaksikan upacara tersebut, yang mendapat perhatian media luas. Tentara dan peralatan militer berbaris di sepanjang jalan raya utama menuju monumen ikonik tersebut selama hari bebas mobil mingguan di kota tersebut. Hingga 100.000 tentara ambil bagian dalam acara tersebut.
Upacara akbar tersebut dihadiri oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo serta para pendahulu dan penerusnya. Hal ini digambarkan sebagai upaya para elit untuk menengahi kelancaran peralihan kekuasaan dari presiden yang akan keluar ke Presiden baru terpilih, Prabowo Subianto – yang akan mengambil alih kekuasaan dalam beberapa minggu mendatang – di tengah rumor adanya keretakan hubungan di antara mereka.
Namun, peristiwa tersebut juga mengirimkan pesan suram kepada kaum reformis Indonesia: TNI, yang diperintahkan untuk tetap berada di barak setelahnya. Tentangpembentukan dimulai, telah kembali ke pusat politik.
Hal ini terlihat jelas dalam sejarah politik TNI.
Fungsi ganda dan mitos pembentukan TNI
Upacara HUT TNI selalu menjadi peristiwa menarik bagi para pemerhati lembaga tersebut karena banyak mengungkapkan posisinya dalam organisasi politik negara.
Pada masa Demokrasi Terpimpin (1957-1966) dan Orde Baru (1966-1998), peringatan hari jadi TNI merupakan kesempatan untuk menyoroti kekuatan militer angkatan bersenjata dan “kedekatan” mereka dengan rakyat Indonesia. membawa.
Catatan menunjukkan banyak parade yang digelar di ruang terbuka luas Parkir Timur Senayan, tak jauh dari Stadion Gelora Bung Karno. Peristiwa yang terjadi di tempat umum tersebut memperkuat klaim TNI sebagai satu kesatuan dengan bangsa Indonesia (Satuan Rakyat TNI)sebuah prinsip penting dalam mitos pembentukan TNI.
Mitos ini berasal dari peran sentral yang diklaim TNI dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam narasi yang dipopulerkan oleh sejarah militer Orde Baru ini, TNI yang dipimpin Jenderal Sudirman mampu mengatasi perpecahan dan ketidakmampuan pemimpin sipil pada masa Revolusi Nasional Indonesia (1945–1949). Hal ini, menurut cerita resmi, menjadikan TNI sebagai kekuatan tempur efektif yang berhasil memukul mundur kolonialisme Belanda melalui kampanye perang gerilya.
‘Kedekatan’ dengan masyarakat ini pada gilirannya memberikan legitimasi kepada TNI untuk mengambil alih kekuasaan fungsi ganda (dwi fungsi), dimana militer harus berperan baik dalam pertahanan negara maupun urusan sosial politik. Ketika fungsi ganda sudah memasuki wacana militer pada akhir era Demokrasi Terpimpin, pada masa Orde Baru hal ini menjadi kebijakan resmi karena perwira TNI menduduki jabatan militer dan sipil dalam pemerintahan.
Namun hal ini berubah seiring dengan jatuhnya Orde Baru dan dimulainya Orde Baru Pembaruan pada tahun 1998. Krisis keuangan yang mengakhiri rezim Suharto, penculikan aktivis politik oleh anggota Kopassus dan dugaan keterlibatan militer dalam kerusuhan tahun 1998 semuanya berkontribusi pada hilangnya legitimasi politik TNI.
Oleh karena itu, TNI terpaksa mengindahkan seruan kaum reformis untuk kembali ke barak, sementara kekuasaan politiknya dibatasi oleh pemerintahan berikutnya. Hal ini tercermin dari perubahan pola perayaan HUT TNI. Antara tahun 1999 dan 2020, peringatan Hari TNI diadakan di pangkalan militer, sebagian besar di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Meskipun dalam banyak kasus beberapa warga sipil diizinkan untuk berpartisipasi dalam perayaan tersebut, kehadiran mereka di pangkalan militer yang aman tentu saja membatasi sejauh mana perayaan tersebut dapat digambarkan sebagai acara publik.
Jokowi dan TNI: yang baru multifungsi?
Perubahan besar dalam peringatan Hari TNI terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Awalnya, perayaan di bawah pemerintahannya lebih sederhana di pangkalan TNI, termasuk pangkalan angkatan laut di Cilegon, Banten, dan markas angkatan bersenjata di Cilangkap, Jakarta Timur. Perayaan besar-besaran kembali dimulai setelah terpilihnya kembali pada tahun 2019, meskipun perayaan tersebut terus diadakan di Halim Perdanakusuma.
Perubahan besar terjadi seiring dengan adanya pandemi COVID-19. Mungkin dengan tujuan untuk meminimalkan pergerakan orang dalam jumlah besar dan menjaga jarak sosial, Hari TNI dirayakan dalam skala yang jauh lebih kecil pada tahun itu. Namun lokasinya bergeser ke Medan Merdeka Utara, tepat di seberang Istana Negara, dengan sejarah perjalanan tentara dan kendaraan yang jumlahnya relatif sedikit.
Perubahan lebih lanjut terjadi setelah pembatasan COVID-19 yang paling ketat dicabut pada tahun 2023. Lokasinya kini dipindahkan ke Monas (Monumen Nasional), pusat simbolis Jakarta, yang melibatkan formasi pasukan dan kendaraan yang lebih besar. Seperti disebutkan, perayaan tahun ini, yang juga menandai naiknya Prabowo ke kursi kepresidenan, mungkin merupakan perayaan paling megah sejak jatuhnya Soeharto. Tentu saja, Prabowo adalah mantan Panglima Pasukan Khusus Angkatan Darat (Kopassus) dan Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), dua formasi militer paling elit.
Simbolisme perubahan ini mudah dilihat. Di bawah pemerintahan Jokowi, militer telah mengambil langkah-langkah untuk kembali ke pusat politik Indonesia setelah sempat terpinggirkan dalam waktu yang relatif singkat. Perubahan-perubahan ini jelas melampaui sekedar simbolis dan tercermin dalam perubahan kebijakan nasional terhadap militer.
Pada masa pemerintahan keduanya, Jokowi sangat ingin mencari sekutu di luar elit politik. Selain dengan bebas mengkritik TNI atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat, Jokowi telah menunjukkan kesediaan yang lebih besar dibandingkan pendahulunya untuk memberikan kekuasaan politik yang lebih besar kepada TNI.
Misalnya saja gagasan untuk menempatkan perwira TNI di birokrasi sipil, yang merupakan praktik yang lumrah pada masa itu fungsi gandatelah diangkat oleh anggota senior pemerintah setidaknya sejak awal tahun 2019. Hal ini telah diformalkan dalam Undang-Undang Kepegawaian baru-baru ini (UU No. 20 Tahun 2023) dan rencana revisi UU TNI (UU No. 34 Tahun 2004). ) juga bertujuan untuk menghilangkan pembatasan kegiatan usaha TNI.
Dalam pernyataannya menanggapi tudingan revisi UU TNI merupakan kebangkitan fungsi gandaPanglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyatakan tentara “sudah tidak ada lagi”. [doing] fungsi ganda, Tetapi multifungsi‘ (multifungsi).
Lanjutan di bawah Prabowo
Pasti ada keraguan apakah pemerintahan Prabowo-Gibran akan melihat adanya pengurangan pengaruh TNI.
Sebagai Menteri Pertahanan di bawah pemerintahan Jokowi, Prabowo aktif berupaya meningkatkan kekuatan politik TNI. Misalnya, ia mendukung program food estate yang diusung Jokowi, yang secara terang-terangan bertujuan untuk meningkatkan kedaulatan pangan nasional dan melibatkan angkatan bersenjata dalam pemerintahannya. Program ini dikritik oleh LSM karena menyesatkan dan tidak efektif, namun program ini memperdalam integrasi militer ke dalam jaringan kepentingan ekonomi dan politik, yang menunjukkan ambisi politik TNI.
Di bawah kepemimpinan Prabowo, TNI juga menganjurkan pembentukan distrik militer baru, yang akan semakin meningkatkan pengaruh militer dalam politik lokal.
Penunjukan Prabowo oleh Jokowi sebagai jenderal kehormatan penuh pada bulan Februari 2024 mengakhiri urusan karir militernya yang belum selesai dan menyoroti pengaruh latar belakang militernya terhadap karir politiknya. Untuk pertama kalinya sejak Presiden Yudhoyono, angkatan bersenjata mempunyai kepala pemerintahan sendiri.
Prabowo muncul dari militer Orde Baru sebagai produk dari fungsi gandadan sekarang semuanya mengarah pada pengembalian yang lebih lengkap ke fungsi ganda di bawah pemerintahan barunya
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Kembalinya #TNI #secara #besarbesaran #pusat #politik