Talking Indonesia: Pemikiran ekologis Indonesia – Beragampengetahuan
Ketika Indonesia bergulat dengan bencana iklim yang semakin sering terjadi – mulai dari banjir dahsyat di Sumatera dan Aceh hingga kekeringan berkepanjangan yang berdampak pada ketahanan pangan – sebuah buku baru menolak solusi yang biasa dilakukan. Tidak ada kredit karbon. Anda tidak perlu menunggu Elon Musk berikutnya. Bacaan Bumi malah bertanya: bagaimana jika jawabannya terletak pada sejarah revolusi Indonesia, landasan konstitusionalnya, dan tradisi filosofisnya yang beragam?
Diterbitkan tahun lalu oleh Yayasan Obor Pustaka Indonesia, Membaca Bumi dimulai sebagai suplemen bulanan untuk Di Indonesia majalah – yang patut kita akui juga melibatkan beberapa presenter Talking Indonesia. Suplemen ini diprakarsai oleh Gerry van Klinken, seorang ilmuwan Indonesia selama bertahun-tahun dan salah satu anggota dewan Di Indonesiadan mempertemukan tujuh belas akademisi, aktivis, dan pemikir Indonesia yang berpendapat bahwa teknologi dan mekanisme pasar saja tidak akan menyelamatkan kita. Sebaliknya, mereka mengusulkan sesuatu yang lebih radikal: sebuah manifesto eko-sosialis yang berakar di tanah Indonesia.
Buku ini muncul dari perbincangan yang dipicu oleh terobosan sekolah musim panas tentang sejarah kritis lingkungan hidup di Universitas Gadjah Mada, program studi universitas pertama di Indonesia. Tanggapan yang diberikan sangat mengejutkan: peluncuran buku yang ramai di Jawa, pelajar yang menuntut lebih banyak mata kuliah, dan aktivis yang menemukan bahasa baru untuk menghubungkan analisis komoditas Marxis dengan mistisisme Jawa, teologi hijau Islam dengan pembacaan tradisi adat oleh feminis, dan Marhaenisme Sukarno dengan kewarganegaraan ekologis abad ke-21.
Redaksi tidak menyebutnya sebagai koleksi akademis. Mereka menyebutnya sebagai manifesto. Dalam pengantarnya, Farabi Fakih menulis bahwa gerakan lingkungan hidup Indonesia pada abad ke-21 merupakan “kelanjutan alami dari revolusi Selatan yang diusung Sukarno”. Ia secara eksplisit menolak apa yang ia sebut sebagai “kisah ajaib teknologi” dari para miliarder Silicon Valley dan “kisah deklinasi” mengenai kehancuran yang tidak bisa dihindari – yang keduanya, menurutnya, berfungsi untuk menghilangkan tindakan kolektif melawan kapitalisme.
Namun seperti apa manifesto lingkungan hidup dalam konteks Indonesia? Bagaimana menghubungkan teori keretakan metabolisme Marx dengan bencana banjir di Sumatera? Mengapa generasi muda Indonesia menemukan harapan pada panpsikisme dan feminisme pegunungan Kendeng? Lalu apa jadinya bila Anda mengetahui bahwa UUD 1945 sudah memuat filosofi ekologi yang banyak dilupakan?
Dalam episode kali ini, kami berbincang dengan dua kontributor utama Bacaan Bumi: Farabi Fakih, ketua program magister Sejarah di Universitas Gadjah Mada, tempat lahirnya kurikulum sejarah lingkungan kritis, dan Fathun Karib, sosiolog sejarah, peneliti postdoctoral di Asia Research Institute, dan pendiri band punk Critical Death. Bersama-sama mereka mengeksplorasi mengapa solusi nyata harus datang dari Indonesia, mengapa tur buku mengungkap harapan dan ketakutan di kalangan generasi muda, dan bagaimana ketentuan konstitusi Indonesia tahun 1960an tentang bumi dapat menawarkan lebih banyak hikmah dibandingkan dengan gabungan seluruh janji yang diberikan Silicon Valley.
Pada tahun 2026, podcast Talking Indonesia akan dipandu oleh Dr.Jemma Purdey dari Australia-Indonesia Centre, Dr.Elisabeth Kramer dari Universitas New South Wales, Tito Ambyo dari RMIT, Dr.Jacqui Baker dari Murdoch University, dan Clara Siagian dari University of College London.
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Talking #Indonesia #Pemikiran #ekologis #Indonesia