AI dapat membantu melawan misinformasi AI – CEO Nvidia

 – Beragampengetahuan
4 mins read

AI dapat membantu melawan misinformasi AI – CEO Nvidia – Beragampengetahuan

Contents

AI harus memerangi misinformasi yang dihasilkan oleh AI

CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan kecerdasan buatan (AI) adalah kunci untuk memerangi risiko yang ditimbulkan oleh misinformasi yang dihasilkan oleh AI. Dalam pidatonya baru-baru ini di Pusat Kebijakan Bipartisan, Huang menekankan bahwa kemampuan AI untuk menghasilkan disinformasi dengan cepat memerlukan solusi berbasis AI untuk melawannya.

Huang lebih lanjut memperingatkan bahwa seiring berkembangnya teknologi, kemampuannya untuk menghasilkan data yang menyesatkan dan disinformasi akan semakin cepat. Oleh karena itu, sistem serupa harus berjalan pada kecepatan yang sama atau lebih cepat untuk mendeteksi dan memblokir ancaman tersebut.

Huang membandingkan penerapan kecerdasan buatan dalam menangani misinformasi dengan lanskap keamanan siber saat ini. Ia mengatakan bahwa hampir setiap perusahaan menghadapi ancaman serangan siber dan memerlukan langkah-langkah keamanan siber yang lebih kuat untuk menghadapi serangan tersebut.

Demikian pula, teknologi AI harus tetap terdepan dalam menghadapi ancaman yang didorong oleh AI.

Huang mendesak pemerintah untuk merangkul teknologi AI

Huang juga meminta pemerintah AS untuk mengambil peran lebih aktif dalam pengembangan kecerdasan buatan. Ia menegaskan, pemerintah tidak hanya sekedar mengatur kecerdasan buatan saja, namun juga menjadi praktisi teknologi tersebut.

Ia menyebut Departemen Energi dan Pertahanan sebagai kementerian penting di mana teknologi inovatif ini dapat memainkan peran kuncinya. Huang menyarankan agar Amerika Serikat mempertimbangkan pembangunan superkomputer untuk mempercepat penelitian dan pengembangan di bidang ini.

Dia mengatakan langkah ini akan memungkinkan para ilmuwan mengembangkan algoritma kecerdasan buatan baru yang akan memajukan kepentingan nasional. Komentar Huang muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai peran teknologi dalam membentuk persepsi publik, terutama menjelang pemilihan federal di Amerika Serikat pada bulan November.

Survei Pew Research Center baru-baru ini menemukan bahwa hampir 60% orang Amerika khawatir tentang penggunaan kecerdasan buatan untuk menyebarkan disinformasi tentang calon presiden. Sekitar 40% responden percaya bahwa AI akan digunakan untuk tujuan yang merugikan pada pemilu mendatang, sementara hanya sebagian kecil yang percaya bahwa AI akan digunakan untuk tujuan yang baik.

Kekhawatiran tersebut meningkat ketika seorang pejabat intelijen AS yang tidak disebutkan namanya melaporkan bahwa Rusia dan Iran telah menggunakan kecerdasan buatan untuk memanipulasi konten politik, termasuk video Wakil Presiden Kamala Harris.

Model AI di masa depan akan membutuhkan lebih banyak energi

Huang juga mencatat bahwa seiring dengan semakin kompleksnya model AI, maka dibutuhkan lebih banyak daya. Ia memperkirakan bahwa pusat data di masa depan mungkin memerlukan energi 20 kali lebih banyak dibandingkan pusat data saat ini.

CEO Nvidia menyarankan untuk membangun pusat-pusat ini di tempat-tempat dengan energi berlebih karena AI tidak bergantung pada tempat ia belajar. Oleh karena itu, pusat data jarak jauh menjadi pilihan yang tepat untuk mengelola konsumsi energi.

Dia mencatat bahwa model masa depan akan semakin bergantung pada sistem AI lain untuk saling melatih. Hal ini, ditambah dengan meningkatnya jumlah data yang dibutuhkan untuk pelatihan, akan meningkatkan konsumsi energi di seluruh industri.

Gubernur California Newsom memveto RUU keselamatan yang kontroversial

Sementara itu, Gubernur California Gavin Newsom memveto RUU keselamatan kecerdasan buatan yang kontroversial SB 1047, dengan mengatakan hal itu akan menghambat inovasi. RUU tersebut, yang dikenal sebagai Frontier Artificial Intelligence Model Safety and Dependability Innovation Act, bertujuan untuk menerapkan standar keselamatan yang ketat pada model.

Oleh karena itu, perusahaan seperti OpenAI, Meta, dan Google harus menguji sistem AI mereka dan memperkenalkan “kill switch.” Setelah menolak RUU tersebut, Newsom menyatakan kekhawatirannya bahwa peraturan yang diusulkan akan menghambat pengembangan model kecerdasan buatan yang sedang berkembang.

Dia mengatakan undang-undang tersebut menargetkan perusahaan-perusahaan besar AI tetapi tidak secara efektif mengatasi risiko nyata yang ditimbulkan oleh AI. Dia menekankan bahwa RUU tersebut akan memberlakukan pembatasan yang tidak perlu pada fungsi-fungsi dasar dan menciptakan hambatan bagi inovasi di masa depan.

Sponsor RUU tersebut, Senator Scott Wiener, berpendapat bahwa peraturan tersebut diperlukan untuk mencegah potensi bencana terkait dengan pengembangan kecerdasan buatan. Jika disahkan, RUU ini akan memungkinkan Jaksa Agung California untuk mengadili pengembang yang sistem kecerdasan buatannya menimbulkan risiko signifikan, seperti potensi pengambilalihan infrastruktur penting seperti jaringan listrik.

Hak veto Newsom memicu perdebatan mengenai inovasi dan keamanan

Meski begitu, Newsom mengakui perlunya langkah-langkah keamanan AI namun menyerukan pendekatan yang lebih seimbang. Dia menugaskan para ahli untuk melakukan analisis risiko berbasis sains dan mengarahkan lembaga-lembaga negara untuk terus menilai potensi ancaman dari kecerdasan buatan.

RUU tersebut mendapat tentangan keras dari Silicon Valley, termasuk raksasa teknologi seperti OpenAI dan Google, serta beberapa politisi. Mantan Ketua DPR Nancy Pelosi memperingatkan bahwa RUU tersebut dapat memperlambat kemajuan kecerdasan buatan di California.

bitcoin to idr



bitcoin hari ini

bitcoin ke rupiah, harga bitcoin hari ini, 1 bitcoin
, mining bitcoin, bitcoin to usd, bitcoin indonesia, cara mendapatkan bitcoin, bitcoin news, bitcoin usd, cara main bitcoin, bitcoin indodax

#dapat #membantu #melawan #misinformasi #CEO #Nvidia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *