Apa arti sebenarnya kunjungan Paus bagi Indonesia – Beragampengetahuan

Foto oleh Rita Padawangi
Sekelompok pemuda yang berjumlah sekitar 20 orang pergi ke kaki altar setelah Misa Paus dan membentangkan spanduk protes. Keselamatan Paus tidak terancam, meskipun para demonstran mencapai jarak tiga puluh meter dari tangga menuju altar utama. Beberapa orang berteriak “Viva Papa!” dan “Hidup kemerdekaan!”. Para pemuda tersebut segera dipukuli oleh aparat keamanan, yang tampaknya adalah polisi berpakaian preman. Tak lama setelah itu, sekitar seratus orang mulai melemparkan kursi ke arah polisi untuk membantu para pengunjuk rasa.
Itu terjadi 35 tahun yang lalu, dua paus yang lalu, di wilayah yang saat itu bernama Timor Timur, Indonesia.
Kedatangan Paus Fransiskus di Jakarta pada 3 September tahun ini nampaknya sangat berbeda.
Ini adalah pertama kalinya seorang Paus menginjakkan kaki di Indonesia ketika Soeharto belum menjadi presiden, setelah kunjungan kepausan Paulus VI pada tahun 1970 dan Yohanes Paulus II pada tahun 1989. Dengan demikian, ini menandai dimulainya leg pertama dari kunjungan apostolik terlama dalam masa kepemimpinannya. kepausan. jauh. Perjalanannya membentang lebih dari 32.000 mil melintasi empat negara: Indonesia, Papua Nugini dan, ya, Timor Timur.
Tidak mengherankan jika kunjungan Paus tahun ini telah memicu kehebohan media di Indonesia, dimana sebagian besar komentator menafsirkan kedatangan Paus Fransiskus sebagai tanda toleransi beragama di tengah keberagaman di Indonesia. Menteri Agama Yaqut Cholil Quomas mengatakan kunjungan Paus adalah momentum untuk “mengamankan dialog antaragama” karena “dialog antaragama adalah kunci perdamaian dunia.” Seorang pemuda Katolik menyampaikan ambisinya bahwa kedatangan Paus akan “memperkuat toleransi antar kelompok etnis dan agama yang berbeda.” Menteri Kelautan dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yakin kunjungan Paus Fransiskus akan meningkatkan toleransi beragama di Indonesia.
Tentu saja tidak ada yang buruk dalam toleransi beragama. Bahkan, hal itu selalu dipromosikan di Indonesia sebagai ungkapan slogan Bhinneka Tunggal Ika – Bhinneka Tunggal Ika.
Namun melihat kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia semata-mata sebagai alasan toleransi beragama adalah tindakan yang terlalu reduksionis.
Membela orang miskin
Menariknya, ketika Jorge Mario Bergoglio menjadi paus, ia memilih ‘Fransiskus’ sebagai nama kepausannya. Santo Fransiskus dari Assisi, senama dengannya, adalah santo pelindung orang miskin. Paus mengatakan bahwa “Santo Fransiskus adalah contoh sempurna kepedulian terhadap kelompok rentan dan ekologi integral yang dijalani dengan penuh sukacita dan otentik. Dia adalah santo pelindung setiap orang yang belajar dan bekerja di bidang ekologi, dan dia juga sangat populer di kalangan non-Kristen. Dia sangat prihatin terhadap ciptaan Tuhan dan orang-orang miskin dan terbuang.”
Faktanya, kepedulian terhadap masyarakat miskin – yang “dikucilkan dan dilupakan, mereka yang tidak memiliki makanan dan pakaian” – adalah ciri khas kepemimpinan Paus Fransiskus, dan ia berpendapat bahwa membawa mereka dari pinggiran ke pusat akan menjadi prioritas, karena ini adalah “kriteria paling penting dari keaslian Kristiani”. Dalam konteks Paus Fransiskus, memprioritaskan masyarakat miskin tidak hanya terbatas pada kegiatan amal, namun juga termasuk memerangi “ketidakadilan sosial dan kerusakan lingkungan.”
Ada perdebatan mengenai posisi Paus Fransiskus di berbagai bidang, dan ada juga kritik. Namun sejauh ini ia adalah seorang Paus yang pesan-pesannya sangat jelas menekankan keadilan sosial dan kelestarian lingkungan sebagai sarana kepedulian terhadap masyarakat miskin.
Daripada hanya berfokus pada toleransi beragama, liputan media mengenai kunjungan Paus Fransiskus juga harus mengakui keadilan sosial dan lingkungan karena berbagai alasan.
Pertama, sebagaimana disebutkan, keadilan sosial dan keadilan lingkungan secara konsisten dibahas dalam surat dan pidato Paus Fransiskus. Contohnya adalah Laudato Si’, salah satu ensiklik khasnya. Biasanya ensiklik adalah surat kepausan yang ditujukan kepada umat Katolik Roma, namun ensiklik ini ditujukan kepada “setiap orang yang hidup di planet ini” untuk merawat Bumi sebagai “rumah kita bersama.”
Ensiklik tersebut, yang diterbitkan pada tahun 2015, memperjelas bahwa harus ada upaya bersama untuk mengatasi tantangan lingkungan yang dihadapi masa depan bumi, dan upaya tersebut harus konsisten dengan keadilan sosial. Misalnya, Laudato Si’ berpendapat bahwa penggusuran paksa bukanlah solusi terhadap permasalahan perkotaan. Paus Fransiskus menulis bahwa jika relokasi tidak dapat dihindari, “orang-orang yang terlibat langsung harus menjadi bagian dari proses tersebut.”
Penekanan Paus Fransiskus terhadap keadilan sosial dan lingkungan hidup sangat penting dalam konteks Indonesia. Konflik agraria masih terjadi di banyak tempat di tanah air, yang mengakibatkan penggusuran paksa di kota-kota besar dan kecil. Bahkan proyek ibu kota baru ‘Nusantara’ yang banyak digembar-gemborkan melibatkan praktik intimidasi dan kekerasan dalam proses pembebasan lahan, seperti Percakapan Indonesiamelaporkan hal ini bersama Sajogyo Institute dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Kedua, satu penekanan pada “toleransi beragama” selama kunjungan Paus Fransiskus mungkin akan menghilangkan gambaran besar tentang apa yang secara konsisten diperjuangkan oleh Paus Fransiskus. Toleransi beragama adalah bagian dari keadilan sosial, dan keadilan sosial adalah payung yang lebih besar yang juga mencakup pengutamaan masyarakat miskin. Penekanan pada toleransi beragama saja dapat mengesampingkan kebutuhan nyata masyarakat miskin, terutama di Indonesia, dimana penggusuran merupakan hal biasa.
Ketiga, perhatian Paus Fransiskus terhadap keprihatinan bersama dan terhadap bumi sebagai rumah kita bersama juga menyerukan berbagai kelompok masyarakat untuk bersatu, tanpa diinstruksikan untuk sekedar “toleransi” satu sama lain. Faktanya, kerja sama antar agama dan kelompok etnis untuk mengatasi permasalahan bersama di dunia ini akan menjadi inisiatif antaragama yang bermakna.
Ketimpangan perkotaan
Permasalahan keadilan sosial dan lingkungan hidup di Indonesia dan Asia Tenggara tidak dapat dipisahkan dari pesatnya urbanisasi di kawasan ini. Banyak kota menderita masalah sosial dan degradasi lingkungan akibat pembangunan yang berlebihan, seperti yang diakui Paus Fransiskus dalam ensikliknya.
Meski demikian, Paus berpendapat bahwa keberagaman adalah kekuatan kota. Kota “… bersifat multikultural; di kota-kota besar ditemukan jaringan penghubung di mana sekelompok orang berbagi imajinasi dan impian yang sama tentang kehidupan, dan interaksi manusia yang baru, budaya-budaya baru, kota-kota yang tidak terlihat muncul.” Paus juga membayangkan masa depan kota yang lebih baik: “Betapa indahnya kota-kota kota-kota yang mengatasi ketidakpercayaan yang melumpuhkan, mengintegrasikan mereka yang berbeda dan mengubah integrasi ini menjadi faktor pembangunan baru! Betapa menariknya kota-kota yang, bahkan dalam desain arsitekturalnya, penuh dengan ruang-ruang yang menghubungkan, saling menghubungkan dan mempromosikan pengakuan orang lain!”.
Bagi Paus Fransiskus, yang memecah masyarakat bukanlah keberagaman, melainkan eksploitasi ekonomi global. Di dalam Saudara Tuttidalam ensiklik yang diterbitkan pada tahun 2020, ia menyesalkan bahwa sektor ekonomi dan keuangan telah mengkooptasi frasa “terbuka terhadap dunia” untuk merujuk secara eksklusif pada “keterbukaan terhadap kepentingan asing atau kebebasan kekuatan ekonomi untuk bertindak tanpa hambatan atau komplikasi dalam berinvestasi.” . di semua negara. Konflik lokal dan pengabaian terhadap kepentingan bersama dieksploitasi oleh ekonomi global untuk menerapkan model budaya tunggal. Budaya ini menyatukan dunia, namun memecah belah individu dan bangsa.”
Kekuatan masyarakat sipil
Terakhir, Paus Fransiskus percaya bahwa masyarakat sipil memainkan peran penting dalam meningkatkan kepedulian terhadap keadilan sosial dan lingkungan. “Di banyak belahan dunia, kota-kota menjadi tempat terjadinya protes massal dimana ribuan orang menyerukan kebebasan, suara dalam kehidupan publik, keadilan dan berbagai tuntutan lainnya yang, jika tidak dipahami dengan baik, tidak akan bisa dibungkam dengan kekerasan yang dilakukan. ”.
Hal ini mengingatkan kita pada peristiwa yang mengawali artikel ini: protes pemuda di Dili 35 tahun yang lalu setelah misa di mana Paus Yohanes Paulus II menyerukan agar masyarakat Timor Timur menjadi ‘garam’ dan ‘terang’ dunia. Protes tersebut menunjukkan bahwa situasi di Timor Timur sedang tidak baik. Ini merupakan momen penting, karena kunjungan Paus membuka akses media internasional. Momentum yang tercipta dari kunjungan tersebut berperan penting dalam peristiwa yang pada akhirnya mengarah pada referendum kemerdekaan Timor Timur.
Konteks kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada tahun 2024 jelas berbeda dari kunjungan kepausan sebelumnya, dan Paus sendiri berbeda dari para pendahulunya, salah satu alasannya adalah karena ia telah menjadi pembela keadilan sosial dan lingkungan yang konsisten dan tidak menyesal. Nilai-nilai yang diwakilinya melampaui batas-batas agama yang sudah mapan.
Itu sebabnya kunjungan Paus Fransiskus bisa menjadi momen refleksi bagi semua orang, apapun keyakinannya: apakah semuanya baik-baik saja di Indonesia? Apakah ketidakadilan sosial dan ketidakadilan lingkungan masih berlaku? Jika ya, bagaimana ajaran Paus Fransiskus dapat memengaruhi pemahaman kita mengenai situasi ini dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasinya?
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Apa #arti #sebenarnya #kunjungan #Paus #bagi #Indonesia