Berakhirnya pemilu lokal? Politik dinasti dan masalah keterwakilan demokratis – Beragampengetahuan
Proyek M/Ricky Yudhistira
Usulan penggantian pemilihan kepala daerah langsung (pemilihan kepala daerah secara langsung) dengan seleksi tidak langsung (pemilihan kepala daerah tidak langsung) yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mulai mendapat dukungan. Partai-partai politik dalam koalisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendukung usulan ini, dengan mengatakan bahwa penunjukan DPRD akan menyelesaikan berbagai masalah yang mereka yakini disebabkan oleh pemilihan kepala daerah langsung.
Satu kritik langsung pemilu daerah adalah bahwa mereka berkontribusi terhadap berkembangnya dinasti politik di tingkat lokal, dan hal tersebut memang ada benarnya. Namun, kami ragu peralihan dari pemilu langsung ke penunjukan DPRD bisa menjadi solusi permasalahan politik dinasti. Faktanya, kami pikir ini hanya akan memperburuk keadaan.
Langsung pemilu daerah dan kebangkitan politik dinasti
Tentu saja, dinasti politik daerah menjadi ciri yang menonjol dalam lanskap politik Indonesia setelah diberlakukannya pemilihan kepala daerah langsung. Penelitian kami menunjukkan bahwa jumlah kandidat dinasti terus meningkat secara konsisten di setiap siklus pemilu.
Pada pemilu kepala daerah yang diadakan antara tahun 2015 dan 2018, hanya 202 calon dinasti, atau 6% dari total 3.402 calon, yang muncul di surat suara. Pada Pilkada Serentak 2020, terdapat 159 calon dinasti atau 18,66% dari total 852 calon yang bersaing memperebutkan kekuasaan di 270 daerah. Jumlah tersebut meningkat tajam pada Pilkada 2024, dengan 659 calon dinasti, atau sekitar 21,26% dari total 3.100 calon.
Namun seiring dengan bertambahnya jumlah kandidat dinasti, kemungkinan mereka memenangkan pemilu pun menurun. Faktanya, persentase kemenangan kandidat dinasti mengalami penurunan. Antara tahun 2015 dan 2018, 67,8% kandidat utama regional dinasti tersebut terpilih. Angka tersebut turun menjadi 41,12% pada pemilu serentak 2020 dan kemudian menjadi 39,91% pada pemilu serentak 2024.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa selama arena politik tetap terbuka dan kompetitif di tingkat lokal, para pemilih mempunyai peluang-peluang tersebut untuk tidak memilih kandidat dinasti. Meski calon berlatar belakang dinasti mempunyai modal politik yang unggul, namun hal tersebut tentu tidak menjamin mereka akan menang.
Mengapa secara tidak langsung pemilu daerah dapat mendongkrak dinasti politik
Ironisnya, mengakhiri pemilihan kepala daerah secara langsung dapat menyebabkan berkembangnya kembali dinasti politik daerah.
Alasannya sederhana: penunjukan DPRD sangat memusatkan kekuasaan di tangan legislatif daerah. Politisi lokal yang ingin memperluas kekuasaan mereka melalui politik dinasti perlu mendapatkan dukungan dari lebih sedikit aktor untuk meningkatkan peluang keberhasilan mereka. Dalam pemilu langsung, calon pembangun dinasti harus memobilisasi dukungan ratusan ribu atau bahkan jutaan pemilih (tergantung pada jumlah pemilih dan kandidat di unit subnasional). Jika pemilu langsung dihapuskan, dinasti-dinasti mungkin hanya memerlukan dukungan dari beberapa legislator.
Perubahan dalam sistem pemilu lokal ini akan secara dramatis mengubah permasalahan pelaku utama (principal-agent problem) dalam politik pemilu Indonesia kontemporer, dari masalah yang awalnya merugikan dinasti-dinasti yang sedang berkembang menjadi masalah yang menguntungkan mereka. Hubungan yang paling penting tidak lagi terjadi antara politisi dan pemilih, namun antara politisi yang mencari posisi kepemimpinan regional dan sesama politisi yang duduk di Republik Demokratik Rakyat Korea.
Politisi yang ingin membangun dinasti politik hanya perlu menjaga loyalitas koalisi pemenang. Dengan lebih sedikit ‘pelanggan’ yang harus dipantau, mempertahankan dukungan dan mengelola potensi kerusakan menjadi lebih mudah. Ketika proses politik berlangsung, ekspektasi para pelaku (calon dinasti) dan agen (anggota DPRD) secara bertahap akan mengkristal dan kesepakatan akan tercapai. Dinasti akan memberikan manfaat yang lebih tepat sasaran – sah atau korup – kepada setiap anggota DPRD.
Dengan kata lain: dalam sistem pemilukada tidak langsung, jual beli suara tidak akan berkurang, namun justru menjadi lebih ‘efisien’.
Solusi yang lebih baik: pelembagaan partai yang lebih kuat
Demokrasi Indonesia mendapat manfaat dari pemilihan kepala daerah langsung.
Pertama, politik lokal dapat menjadi tempat pelatihan bagi para pemimpin nasional di masa depan. Tanpa pemilihan kepala daerah langsung, Indonesia tidak akan memiliki Joko Widodo, Gamawan Fauzi, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama dan pemimpin daerah berkaliber tinggi lainnya. Pengembalian jabatan melalui DPRD akan mengurangi dan melemahkan pasokan kepemimpinan nasional dengan membatasinya hanya pada elit di tingkat nasional.
Kedua, kebijakan yang diadopsi oleh pemimpin daerah sering kali mengarah pada penerapan kebijakan serupa di tingkat nasional. Sistem kesehatan nasional (Jamkesmas), misalnya, terinspirasi dari program di Kabupaten Jembrana Bali yang dipimpin oleh Gede Winasa pada tahun 2000 hingga 2010.
Ketiga, pemilihan kepala daerah secara langsung memaksa pemimpin daerah untuk membuat kebijakan yang menguntungkan warga agar dapat dipilih kembali. Ini adalah salah satu bentuk populisme, namun dalam pemilu lokal, hal ini juga merupakan bentuk akuntabilitas vertikal yang memastikan bahwa pemimpin daerah bertanggung jawab kepada pemilihnya. Gagasan desentralisasi sebagai sarana mendekatkan pemerintah kepada rakyat tidak ada artinya tanpa pemilihan umum langsung.
Usulan untuk segera dihentikan pemilu daerah menutupi masalah sebenarnya dalam demokrasi Indonesia: partai politik di Indonesia tidak lagi berfungsi. Partai tidak berfungsi dengan baik dalam demokrasi Indonesia, kecuali pada saat pemilu. Fungsi-fungsi dasar seperti mempersiapkan pemimpin masa depan, komunikasi politik, dan mengumpulkan kepentingan – semua fungsi yang menghubungkan pemilih dengan pembuatan kebijakan – sangat kurang. Partai politik juga sudah menjadi urusan keluarga. Hanya sedikit partai yang tidak dipimpin oleh politisi ‘darah biru’. Banyak pakar yang mempelajari demokratisasi di Indonesia menunjukkan bahwa partai politik tidak mau melembagakan diri mereka sendiri dan menerapkan regenerasi partai yang berlapis-lapis dan berdasarkan prestasi.
Bangkitnya dinasti politik di tingkat daerah harus dilihat sebagai salah satu dari sekian banyak permasalahan yang timbul akibat lemahnya institusionalisasi partai politik, dibandingkan akibat pemilu langsung. Daripada langsung menjatuhkannya pemilu daerah Dalam sistem ini, partai politik perlu melakukan reformasi diri dan lebih melibatkan pemilih melalui gagasan, keterlibatan, dan program yang responsif secara sosial.
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Berakhirnya #pemilu #lokal #Politik #dinasti #dan #masalah #keterwakilan #demokratis