{Column} Berburu pemain naturalisasi (lagi), lelah kan?

 – Beragampengetahuan
4 mins read

{Column} Berburu pemain naturalisasi (lagi), lelah kan? – Beragampengetahuan

Football5Star.net, Indonesia – Belakangan ini dunia maya sedang ramai dengan pemain naturalisasi yang bermain untuk timnas Indonesia. Ini adalah satu lagi rangkaian fans Indonesia yang terpecah menjadi dua kubu, pro dan kontra, selama beberapa bulan terakhir.

Naturalisasi pemain untuk melindungi timnas sebenarnya sah-sah saja. FIFA juga tidak melarangnya. Namun, FIFA mensyaratkan adanya hubungan antara pemain dan negara penerima naturalisasi untuk tujuan sepak bola.

FIFA mengizinkan suatu negara melakukan naturalisasi pemain untuk membela tim nasional dengan empat syarat. Pertama, pemain tersebut lahir di negara masing-masing, kemudian ibu atau ayah pemain tersebut lahir di negara tersebut, meskipun mereka tinggal di luar negeri. Ketiga, nenek atau kakek kandung lahir di negara yang bersangkutan. Yang terakhir – sang pemain bertahan selama lima tahun ketika ia berusia 18 tahun.

Ozren Podnar melaporkan dari Seorang penggemar sepak bolamengatakan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah tren baru dan memang praktik pemain naturalisasi memiliki sejarah yang panjang. Timnas Jerman sebelum perang menyerap pemain-pemain terbaik Austria setelah Anschluss dan memaksa pemain Polandia Ernst Wilimowski untuk bergabung dengan tim mereka pada masa pendudukan Polandia.

Ribut-ribut pemain naturalisasi (lagi), capek gak?
ESPN

Dalam persiapan Piala Dunia 1934, Italia juga menaturalisasikan beberapa “arijundi” yang tidak biasa, orang Amerika Selatan keturunan Italia. Orsi, Monti, Demaria dan Guaito bermain untuk “tim Azura” dan memenangkan gelar juara dunia dalam pertandingan melawan Republik Ceko.

Jadi bisa dibayangkan tim Prancis sukses tanpa pemain Afrika seperti Zidane (Aljazair), Vieira (Senegal) atau Desai (Ghana), bala bantuan Amerika seperti Thuram dan Henry (Guadeloupe) atau pemain dari Oseania, seperti Karembe (Kaledonia Baru). )?

Contents

Apakah pemain naturalisasi tidak punya nasionalisme?

Nah, tak sedikit pihak yang khawatir pemain naturalisasi tersebut, meski berstatus warisan leluhur, kurang memiliki rasa nasionalisme. Benar, ingat, siapa yang tahu? Namun yakinlah, ketika para pemain tersebut rela melepas paspor lamanya demi Indonesia, tentu ada ikatan emosional. Statuta FIFA yang membatasi jumlah maksimal keturunan kedua yang bisa dinaturalisasi secara langsung juga merupakan salah satu tujuan tersebut.

“Saya ingat dengan jelas ketika kami keluar ke lapangan dan melihat para pemain Brasil. “Saat itu saya pikir mereka tidak bisa menang karena mereka baru berusia 11 tahun dan kami punya jutaan,” kata Lilian Thuram kepada BBC ketika ditanya di Panditfootball tentang resep mengalahkan Brasil di final Piala Dunia 1998.

Ribut-ribut pemain naturalisasi (lagi), capek gak?
Getty

Ucapan Thuram itu prihatin dengan banyaknya suporter Prancis di final Piala Dunia 1998.

Jadi seharusnya begitu. Namun juga jangan mengagung-agungkan pemain lawas hingga meremehkan pemain lokal asli, memfitnah kompetisi negara sendiri. Dianggap berkualitas rendah, jelek, banyak curang. Faktanya, di antara pemain naturalisasi tersebut ada dua nama tenar di Timnas Indonesia, yakni Rizki Ridha dan Witan Suleiman yang sedang berkarier di Ligue 1.

Rizky Reed bahkan tampil menonjol saat Indonesia bermain imbang dengan Australia. Hal ini dikutip Lapangbolaia berhasil melakukan 9 tekel, tiga intersepsi, 7 sapuan, dan dua blok. Witan pun mendapat banyak pujian dari para suporter timnas Indonesia pada laga melawan Arab Saudi atas kecerdasannya.

Ribut-ribut pemain naturalisasi (lagi), capek gak?
PSSI

Pernyataan mantan duta besar Indonesia untuk Polandia, Peter Gonta, yang mengkritisi pemain naturalisasi karena kurang nasionalismenya, patut diabaikan. Bagaimanapun, ini hanyalah pendapat yang menunjukkan keprihatinan pribadinya. Jangan sampai para penggemar terpecah menjadi dua kubu karena perdebatan tiada akhir yang bahkan tiga hari setelah pernyataan itu diunggah di media sosial pribadi Peter Gonta masih menuai kontroversi.

Apalagi, PSSI pun tak seharusnya terlibat dalam menghidupkan kembali perdebatan tersebut. Padahal, hal tersebut bisa menjadi kesempatan bagi PSSI untuk menunjukkan apa yang telah mereka lakukan dalam membina pemain muda Indonesia. Mereka hanya perlu menunjukkan apa yang mereka lakukan. Salah satu contohnya adalah dibukanya kembali Elite Pro Academy pada musim 2024-25 dengan tiga kelompok umur yaitu U-16, U-18, dan U-20.

Pasalnya, pemain Indonesia saat ini banyak yang merupakan jebolan EPA, seperti Marcelino Ferdinand, Rizky Rida, Muhammad Ferrari, dan Hernando Ari. PSSI pun berupaya meningkatkan kualitas Ligue 1, mulai dari wasit asing hingga teknologi Video Assistant Referee (VAR). Hal inilah yang seharusnya ditunjukkan PSSI terkait upaya mengelola regenerasi Timnas Indonesia, bukan malah ikut berdebat dan mengucurkan bensin.

Hentikan saja pembahasan ini, saatnya membicarakan nasionalisme nanti. Mereka pun membuktikan bermain dengan sepenuh hati dan rasa bangga untuk timnas Indonesia. Jangan selalu memakai kacamata kuda!

Berita Sepak Bola

Liga Inggris, Liverpool, Liverpool vs West Ham United, Prediksi Liga Inggris, West Ham United, Prediksi Bola, Manchester United, Premier League, Tottenham Hotspur, Elche, Liga Spanyol, Real Madrid, berita judi online, berita judi slot online, berita terkini judi online, berita situs judi online, berita judi online terbaru, judi online berita, berita penangkapan judi online, berita terbaru judi online, berita tentang judi online

#Column #Berburu #pemain #naturalisasi #lagi #lelah #kan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *