Talking Indonesia: Ekspatriat – Indonesia di Melbourne – Beragampengetahuan
Foto oleh Matt Oldfield dari Flickr.
Pada Januari 2021, sebuah kasus yang kemudian dikenal sebagai ‘digital-nomad-gate’ mencengkeram media sosial dan konvensional Indonesia dan juga diberitakan di seluruh dunia. Seorang wanita Amerika yang tinggal di Bali dideportasi setelah serangkaian tweet yang menggambarkan gaya hidupnya yang patut ditiru dan “dimuliakan” di sana dan mendorong orang lain untuk mengikutinya. Di tengah pandemi yang sangat memukul perekonomian Bali, tweet-nya menjadi viral dan memicu reaksi publik yang mengecamnya karena kurangnya kepekaan budaya dan kesadaran akan hak istimewanya sendiri. Wanita itu akhirnya dideportasi karena mengabaikan peraturan imigrasi, meskipun dia mengklaim alasan sebenarnya terkait dengan seksualitas dan rasnya.
Ini hanyalah salah satu dari banyak kasus dalam beberapa tahun terakhir yang, sebagian besar karena maraknya media sosial, menangkap orang asing di Indonesia yang melanggar hukum dan mengabaikan atau mengabaikan norma dan kepekaan sosial dan budaya. Mulai dari mengambil foto yang tidak pantas di tempat suci hingga melanggar protokol pandemi dan menolak untuk mematuhi hukum dan mengakui hak otoritas lokal untuk menegakkannya.
Pada saat yang sama, untuk meningkatkan ekonomi yang dirusak oleh pandemi, otoritas pemerintah telah mencoba untuk menarik lebih banyak orang asing yang disebut sebagai “pengembara digital” atau “profesional bergerak” untuk tinggal dan bekerja di Bali dan tempat lain di negara ini.
Lantas, siapa saja para ekspatriat baru tersebut dan apa motivasi mereka datang ke Indonesia? Apa yang bisa diceritakan oleh sejarah ekspatriat di Indonesia tentang konflik-konflik yang baru-baru ini terkait dengan kesadaran budaya dan hak istimewa? Dan apakah ketegangan baru-baru ini mencerminkan tekanan yang disebabkan oleh pandemi, atau apakah kita menyaksikan perubahan nyata dalam cara pandang orang Indonesia terhadap orang asing yang tinggal dan bekerja di negara mereka?
Di Talking Indonesia episode minggu ini dr chat dengan Anne Meike FechterDosen Antropologi Sosial di University of Sussex, dan penulis ‘Transnational Lives: Expatriates in Indonesia’, Ashgate Aldershot, 2007. Artikelnya ‘Expatriates, privilege and racism’, diterbitkan di Inside Indonesia, April-Juni 2021.
Pada tahun 2023, podcast Talking Indonesia akan dibawakan bersama oleh Dr. Jemma Purdey dari Universitas Monash, Tito Ambyo dari RMIT, Dr. Elisabeth Kramer dari Universitas New South Wales dan Dr. Jacqui Baker dari Universitas Murdoch.
Nantikan podcast Talking Indonesia baru setiap malam. Tonton episode sebelumnya di sini, berlangganan melalui Apple Podcasts, atau dengarkan melalui aplikasi podcasting favorit Anda.
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Talking #Indonesia #Ekspatriat #Indonesia #Melbourne