Mengapa politik dinasti sedang meningkat di Indonesia

 – Beragampengetahuan
5 mins read

Mengapa politik dinasti sedang meningkat di Indonesia – Beragampengetahuan

instagram.com

Pada tanggal 20 Oktober 2024, Istana Negara Indonesia menyaksikan suksesi dinasti langsung yang pertama. Putra sulung Presiden Joko “Jokowi” Widodo, Gibran Rakabuming Raka, menjadi orang termuda yang pernah dilantik sebagai wakil presiden. Ia dilantik bersama Presiden Prabowo Subianto, yang memilihnya sebagai cawapres pada Pilpres 2024 untuk memperkuat aliansinya dengan mantan rivalnya, ayah Gibran.

Pada tahun 2020, saya menulis bahwa dinasti politik telah menjadi hal yang normal dalam lanskap politik Indonesia. Saya berpendapat bahwa penyebab munculnya dinasti politik di Indonesia adalah buruknya institusionalisasi dan pragmatisme partai politik yang mencari keuntungan elektoral. Dengan kata lain, saya fokus pada sisi penawaran pasar pemilu.

Saat itu, data mengenai sikap politik pemilih terhadap politik dinasti masih minim. Kini kita memiliki cukup data untuk mengukur persepsi pemilih terhadap dinasti politik – sisi penawaran pasar pemilu. Informasi ini sangat penting untuk mengembangkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang kebangkitan politik dinasti di Indonesia.

Di sini disarankan bahwa kebangkitan dinasti politik, termasuk dinasti Jokowi, disebabkan oleh sikap acuh tak acuh, atau bahkan mendukung, dari pemilih Indonesia terhadap politik dinasti.

Sikap pemilih Indonesia terhadap politik dinasti

Survei yang saya lakukan empat bulan menjelang Pilkada Serentak 2020 dengan bantuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan 38,8 persen responden menyatakan sikap ambivalen terhadap politik dinasti. Artinya, mereka belum tentu memilih politisi dinasti, namun juga tidak serta merta menolaknya. Yang lebih penting lagi, 37,3 persen responden menunjukkan kecenderungan memilih politisi dinasti. Hanya 21,8 persen responden yang mengatakan mereka tidak mungkin memilih politisi dinasti.

Survei yang dilakukan Indicator pada akhir Oktober – awal November 2023 mendukung hipotesis bahwa pemilih Indonesia relatif acuh tak acuh bahkan toleran terhadap politik dinasti. Sebanyak 42,9 persen responden menyatakan “acuh tak acuh” terhadap politik dinasti, sementara 9,6 persen lainnya “tidak peduli” terhadap politik jenis ini. Hanya 39,2 persen yang mengatakan mereka “prihatin” terhadap politik dinasti.

Perbandingan hasil tersebut dengan survei Indikator yang dilakukan sebelum deklarasi pasangan Prabowo-Gibran pada awal Oktober 2023 menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam toleransi pemilih terhadap politik dinasti.

Survei awal Oktober 2023 menemukan hanya 33,7 persen responden yang menyatakan ketidakpedulian terhadap politik dinasti. 47,9 persen responden mengatakan politik dinasti “cukup mengkhawatirkan.” Artinya, terjadi peningkatan sebesar 9,2 persen pada jumlah responden yang menyatakan ketidakpedulian terhadap politik dinasti. Pada saat yang sama, terjadi penurunan sebesar 8,7 persen pada jumlah responden yang mengungkapkan ‘kekhawatiran’ terhadap politik dinasti.

Lebih lanjut, survei Indikator pada akhir Oktober dan awal November menemukan 52,6 persen responden menyatakan dinasti politik tidak menjadi masalah selama masih melalui proses pemilihan langsung. Hanya 36,3 persen responden yang menyatakan bahwa dinasti politik merupakan masalah bagi demokrasi Indonesia, meskipun pemilih memilihnya secara langsung.

Pergeseran sikap dan toleransi pemilih terhadap politik dinasti sejalan dengan upaya elite politik untuk menormalisasinya. Prabowo Subianto, misalnya, secara retoris bertanya-tanya apakah dinasti ingin melayani rakyat salah. Dia juga menyoroti warisan keluarganya dalam politik. “Kami adalah dinasti patriot,” katanya.

Presiden Jokowi pun membantah tudingan dirinya sedang membangun dinasti politik. Ia mengatakan, keputusan memilih putra sulungnya atau tidak ada di tangan pemilih, bukan di tangan elite atau partai politik, komentar yang juga diamini Gibran.

Komentar-komentar tersebut seolah mengabaikan fakta bahwa kelayakan Gibran untuk mengikuti pemilu presiden 2024 sebenarnya bergantung pada pengaruh pamannya, Anwar Usman, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi. Anwar didakwa mempengaruhi hakim Mahkamah Konstitusi lainnya untuk mengabulkan permohonan penghapusan batasan usia calon presiden dan wakil presiden dalam Undang-Undang Pilkada Kepala Daerah Tahun 2017. Membuka jalan bagi Gibran yang pernah menjabat Wali Kota Solo untuk ikut pemilu.

Anwar kemudian dinyatakan bersalah oleh Dewan Etik pengadilan karena melanggar Kode Etik pengadilan karena tidak mengadili dirinya sendiri meskipun ada konflik kepentingan yang mencolok dalam kasus tersebut. Namun keputusan Dewan Etik tidak membatalkan putusan pengadilan.

Kekhawatiran juga muncul mengenai dugaan campur tangan Jokowi dalam pemilihan presiden yang dimenangkan oleh pasangan Prabowo-Gibran. Mantan presiden tersebut dituduh membagikan bantuan sosial dan memobilisasi aparat negara sebelum hari pemilu untuk memberikan keuntungan bagi Prabowo dan putra sulungnya.

Membatasi maraknya politik dinasti

Hampir mustahil mengakhiri politik dinasti di Indonesia. Yang bisa dilakukan adalah memperlambat laju pertumbuhan dinasti politik dan menciptakan persaingan elektoral yang lebih seimbang, terutama menjelang pemilu daerah pada November 2024.

Setidaknya ada empat cara untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama, memberikan pendidikan politik kepada masyarakat tentang bahaya politik dinasti. Hal ini harus dilakukan dengan cerita dan bahasa yang sesederhana mungkin, melalui saluran media alternatif seperti Facebook, Instagram, dan TikTok.

Kedua, tersedianya saluran informasi yang dapat digunakan masyarakat untuk mengikuti pemilu di daerahnya masing-masing juga dapat meningkatkan kesadaran pemilih terhadap kehadiran politisi dinasti.

Ketiga, kita perlu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kandidat non-dinasti yang memiliki rekam jejak baik dalam pemilu kepala daerah.

Hal ini mengarah pada strategi keempat: memperkuat pengawasan masyarakat sipil terhadap proses pemilihan kepala daerah. Hal ini berarti menciptakan jalur alternatif selain lembaga pemantau pemilu bagi masyarakat untuk melaporkan kecurangan pemilu.

Pada akhirnya, satu-satunya pihak yang dapat menentang kebangkitan dinasti di Indonesia adalah para pemilih yang mendukungnya.



Contents

indonesian podcast



aplikasi podcast

podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify

#Mengapa #politik #dinasti #sedang #meningkat #Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *