Akankah Anies dan Ahok bersatu untuk menantang aliansi antara Jokowi dan Prabowo? – Beragampengetahuan

Foto dari instagram/djarotsaifuhidayat
Pada tanggal 2 Januari 2025, Anies Baswedan dan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama – yang pernah menjadi rival politik – menghadiri pertemuan di Balai Kota Jakarta, di mana mereka berbincang ramah dengan mantan gubernur Jakarta lainnya (kecuali pendahulu Ahok, Joko’ Jokowi’ Widodo). Acara “Bentang Harapan JakASA” ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-500e ulang tahun Jakarta tahun ini.
Ahok dan Anies tampaknya senang menggoda publik tentang rencana politik mereka, mengisyaratkan kemungkinan aliansi di antara mereka, sebuah skenario yang – jika terwujud – dapat membawa perubahan pada pemilu presiden tahun 2029.
Tontonan politik yang juga dihadiri oleh Gubernur terpilih Pramono Anung ini sangat menarik mengingat Anies dan Ahok adalah musuh bebuyutan dalam Pilgub Jakarta tahun 2017, yang mungkin merupakan pemilu daerah paling terpolarisasi di Indonesia.
Meskipun sulit untuk memprediksi apakah rekonsiliasi antara Ahok dan Anies benar-benar terjadi, hal ini tentu mencerminkan perubahan konfigurasi elit dalam politik Indonesia setelah pemilihan presiden tahun 2024. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) kini menjadi satu-satunya partai oposisi melawan pemerintahan Prabowo Subianto yang didukung Jokowi, dan Ahok, yang merupakan anggota PDI-P, kini mengalami nasib yang sama dengan mantan musuhnya tersebut. Anies, musuh politik utama Jokowi dan Prabowo.
Kolaborasi pertama mereka sebagai sekutu dimulai di Jakarta, yang pernah menjadi tempat persaingan publik mereka.
Kerjasama Anies-Ahok di Pilkada Jakarta 2024
Pilgub Jakarta tahun 2024 menampilkan dua kandidat: mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan pemenang akhirnya, politisi senior PDI-P Pramono Anung. Namun, ini bukanlah pertempuran yang diharapkan warga Jakarta.
Banyak lembaga survei menunjukkan bahwa pemilih menginginkan pertarungan ulang antara Anies dan Ahok. Misalnya, survei Litbang Kompas pada Juli 2024 yang menempatkan Anies sebagai kandidat terdepan dalam pemilu dengan tingkat elektabilitas 39%, disusul Ahok dengan 34,5%.
Fakta bahwa kedua tokoh politik tersebut tidak tercantum dalam surat suara mungkin menjelaskan rendahnya jumlah pemilih pada pemilu 27 November 2024. Para pemilih tidak mendapatkan kesempatan kedua yang mereka inginkan.
Meskipun keduanya tidak ikut serta dalam pemilu, Anies dan Ahok masih memainkan peran penting dalam menentukan hasil pemilu. Kedua tokoh tersebut berjasa membantu Pramono mengalahkan Ridwan, yang didukung oleh koalisi lebih besar yang dipimpin oleh Jokowi dan Prabowo.
Pramono memulai kampanye pemilunya dengan persentase pemilu hanya 1 persen. Namun seiring berjalannya kampanye, hal ini berubah secara dramatis. Titik baliknya adalah ketika Anies memutuskan untuk bertemu dengan pasangan Pramono-Rano Rarno dibandingkan dengan pasangan Ridwan-Suswono yang saat itu lebih populer. Setelah pertemuan itu, dukungan publik beralih ke yang pertama.
Sulit untuk meremehkan kontribusi ‘Anak Abah’ (julukan pendukung Anies) dan Ahokers terhadap kemenangan Pramono. Baik Anies maupun Ahok menunjukkan bahwa pengaruh mereka dapat secara signifikan mempengaruhi persaingan pemilu di Jakarta. Inilah sebabnya banyak spekulasi mengenai kemungkinan kolaborasi mereka dalam politik nasional.
Meski begitu, kemungkinan mereka bersatu pada Pilkada 2029 bergantung pada apakah PDI Perjuangan mau merangkul Anies, dan secara realistis peluang itu tidak besar.
Beban ideologis dan pragmatisme politik PDI-P
PDI-P masih ragu untuk mendukung Anies dalam pertarungan pemilu. Hal ini tercermin dari fakta bahwa meskipun Anies memiliki popularitas dan elektabilitas tertinggi menurut beberapa lembaga survei pada pertengahan tahun 2024, partai tersebut menolak mencalonkan Anies sebagai gubernur, dengan alasan “perbedaan ideologis.”
Pada tahun 2017, Anies dituduh mengendarai gelombang konservatisme agama untuk mengalahkan Ahok dalam pemilu Jakarta, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang semakin besarnya pengaruh kelompok Islam dalam politik Indonesia. Pemilu tersebut didahului dengan serangkaian unjuk rasa di jalan-jalan yang berujung pada penuntutan dan pemenjaraan Ahok karena komentar kontroversialnya terhadap Al-Quran yang menurut mereka menghujat. Setelah memenangkan pemilu tersebut, Anies berusaha untuk menampilkan dirinya sebagai pemimpin yang inklusif dan pluralistik, namun musuh politiknya terus menekankan hubungannya dengan kelompok Islam.
Berbeda dengan pragmatisme PDI-P. Partai tersebut saat ini berada di bawah tekanan politik yang berat menyusul keputusan memecat Jokowi dan anggota keluarganya. Sekjen Hasto Kristiyanto kini menghadapi suap dan penghalangan penyidikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Secara politis, partai tersebut tersandera oleh kasus Hasto, sehingga memaksa partai tersebut untuk mengambil sikap yang lebih berdamai terhadap pemerintahan Prabowo (yang juga termasuk putra Presiden Jokowi).
Dalam konteks ini, pidato Megawati yang bernada lembut saat perayaan HUT ke-52 partai tersebut dan berkembangnya spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan antara Megawati dan Prabowo dipandang sebagai indikasi bahwa PDI-P enggan melakukan konfrontasi habis-habisan dengan PDI-P. sisi. koalisi yang berkuasa.
Partai tersebut akan mengadakan kongres lima tahunan pada bulan April 2025. Spekulasi mengenai kemungkinan pengambilalihan PDI-P oleh Jokowi semakin meningkat, sebuah skenario yang dapat memaksa PDI-P membentuk aliansi strategis dengan Prabowo untuk mengakhiri partai sebelumnya. presiden. Namun Prabowo merasa tidak nyaman dengan Anies, yang tetap kritis terhadap pemerintahannya dan mungkin akan menantangnya lagi pada tahun 2029. Jika Ahok, sebagai salah satu anggota, memutuskan mencalonkan diri bersama Anies, hal ini bisa menimbulkan risiko serius bagi PDI-P itu sendiri. .
Apakah Anies masih punya peluang jadi presiden?
Menyusul kemenangan Pramono-Rano di Jakarta, beberapa mantan penasehat Anies semasa menjabat gubernur yang dikenal dengan Tim Percepatan Pembangunan (TGUPP) tercatat menjadi anggota tim transisi Pramono. Namun belum jelas apakah mereka akan tetap bertahan setelah pelantikan.
Anies masih dipandang sebagai wajah oposisi bahkan ‘antitesis’ terhadap pemerintahan Prabowo. Anak Abah dikenal luas di media sosial, bertolak belakang dengan kebijakan Prabowo. Kelompok ini telah mengadakan beberapa acara seperti ‘Ubah Bareng’, ‘Humaniora’ dan Anies Bubble, baik online maupun offline, untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Namun, tanpa saluran politik yang baik, suara mereka lama kelamaan bisa menjadi keributan.
Anies sempat menyatakan berencana mendirikan organisasi masyarakat sipil (organisasi besar-besaran), batu loncatan menuju pembentukan partai politik. Ada rumor yang menyebutkan Ahok juga akan ikut dalam ormas baru ini, meski beberapa politikus PDI Perjuangan menampik spekulasi tersebut.
Jika hal itu terjadi, ormas bisa menjadi platform politik pendukung Anies yang saat ini tersebar di berbagai komunitas, sekaligus menjadi wadah perjalanannya menuju Pilpres 2029.
Namun masih belum ada kejelasan kapan dan bagaimana ormas ini akan dibentuk. Apalagi, jalan politik Anies tidak akan mudah karena tim didominasi mantan anggota TGUPP yang sebagian besar berprofesi sebagai teknokrat dibandingkan politisi.
Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Presidential Threshold mungkin bisa memberi Anies peluang lebih besar untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada 2029. Ia masih bisa memanfaatkan popularitasnya untuk menjadi magnet suara bagi partai politik yang ingin mendukungnya.
Namun sulit untuk mengatakan apakah partai-partai tersebut juga akan memasukkan PDI-P. Meskipun Anies mungkin mendapat kesempatan untuk mencalonkan diri lagi dalam pemilu, secara keseluruhan, kemungkinan aliansi dengan Ahok mungkin hanya sekedar gimmick politik pada saat ini.
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Akankah #Anies #dan #Ahok #bersatu #untuk #menantang #aliansi #antara #Jokowi #dan #Prabowo