Berbicara Indonesia: populisme digital – Beragampengetahuan

Proyek M/Rangga Firmansyah
Seminggu yang lalu, saat podcast ini direkam, tagar #emergencydemocracy menjadi viral di media sosial Indonesia. Hal ini dipicu oleh contoh terbaru dari upaya Badan Legislatif Nasional (DPR) Indonesia yang mengesampingkan atau menghalangi putusan Mahkamah Konstitusi, dalam hal ini putusan terkait kelayakan calon peserta pemilu daerah.
Kampanye online tersebut dengan cepat berubah menjadi seruan aksi nyata pada Kamis, 22 Agustus, dalam bentuk protes di DPR di Jakarta dan kota-kota lain di tanah air. Ini akan menjadi hari terakhir sidang DPR sebelum memasuki masa reses menjelang pemilu bulan November, dan oleh karena itu merupakan kesempatan terakhir untuk mengadopsi amandemen.
Respons ribuan pengunjuk rasa di jalanan, termasuk selebriti, pembuat film, aktor, dan akademisi, cukup signifikan sehingga memaksa DPR untuk berhenti sejenak. Hal ini secara efektif mengakhiri apa yang dilihat oleh para demonstran sebagai upaya untuk mencegah saingan utama koalisi Jokowi-Prabowo, Anies Baswedan, untuk mencalonkan diri dalam pemilihan gubernur Jakarta dan untuk memungkinkan putra kedua Jokowi, Kaesang untuk mencalonkan diri sebagai kandidat. kandidat di Jawa Tengah.
Hal ini akan dilihat sebagai kemenangan bagi gerakan akar rumput yang dimulai dengan aktivisme digital dan kemudian turun ke jalan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah gerakan ini akan terus berlanjut atau hanya terjadi satu kali saja?
Selama dekade terakhir, aktivisme digital telah mengakar dan menjadi sangat profesional dalam ekosistem politik dan sosial Indonesia. Dalam pemilihan presiden baru-baru ini, besarnya tim buzzer seorang kandidat dan jumlah influencer media sosial yang stabil merupakan faktor penentu dalam menghasilkan pemilih bagi partai-partai besar, terutama dari demografi Gen Z yang semakin penting. Kemenangan telak Prabowo sebagian besar dimungkinkan oleh perubahan citra dirinya dan penggunaan TikTok yang ditargetkan selama kampanyenya.
Siapa dan apa yang melatarbelakangi kampanye-kampanye yang mendorong populisme digital dalam politik Indonesia? Pada saat demokrasi Indonesia sedang terancam dan pengunjuk rasa anti-pemerintah semakin frustrasi, apakah Internet di Indonesia masih berpotensi menjadi kekuatan positif?
Pada episode minggu ini, Dr. Jemma Purdey berbicara dengan Ary Hermawan. Ary adalah editor saat ini Indonesia di Melbourne dan kandidat PhD di Institut Asia Universitas Melbourne. Sebelumnya beliau bekerja sebagai pemimpin redaksi dan editor di sebuah surat kabar harian berbahasa Inggris besar di Indonesia, Jakarta Post. Ia juga sempat menjabat Wakil Direktur Amnesty International Indonesia. Artikelnya di Kajian Melbourne Asia tentang bagaimana oligarki Indonesia mengeksploitasi dunia maya tersedia di sini.
Pada tahun 2024, podcast Talking Indonesia akan dipandu oleh Dr Jemma Purdey dari Australia-Indonesia Centre, Dr Elisabeth Kramer dari University of New South Wales, Dr Jacqui Baker dari Murdoch University dan Tito Ambyo dari RMIT.
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Berbicara #Indonesia #populisme #digital