Dr Nestor Basemela: ‘Terlalu ambisius’, ‘terlalu radikal’ atau ‘bunuh ratu’: Serangan, ancaman, dan disinformasi berbasis gender dalam politik Uganda – Beragampengetahuan
Disinformasi telah menjadi aspek penting dalam kampanye di seluruh dunia, membentuk narasi politik dan mempengaruhi opini pemilih – sebuah tren yang juga terlihat dalam pemilu di Afrika.
Di Uganda, disinformasi spesifik gender telah diidentifikasi sebagai masalah utama yang menimbulkan kritik dan intimidasi terhadap perempuan dalam politik selama pemilu tahun 2021 dan yang terbaru pada pemilu partai tahun 2025. Kritik-kritik tersebut berkisar dari pelecehan online, ancaman langsung kekerasan berbasis gender, hingga pelecehan psikologis, dimana perempuan menjadi sasaran manipulasi emosional, pembunuhan karakter, penguntitan, dan pelecehan online oleh laki-laki pendukung kandidat lawan, yang menjadi hambatan besar bagi partisipasi politik perempuan.
Menurut Martins (2024), disinformasi gender mengacu pada penyebaran informasi dan gambar yang menipu atau tidak akurat yang menargetkan pemimpin politik perempuan dan tokoh masyarakat perempuan lainnya. Jenis disinformasi ini mengeksploitasi misogini dan stereotip sosial tentang peran perempuan, sehingga menimbulkan ancaman terus-menerus di media sosial dan saluran lainnya. Tantangan yang dihadapi perempuan dalam politik tidak hanya terjadi di Uganda. Sebuah studi yang dilakukan oleh Baldwin-Philippi (2024) menemukan bahwa perempuan dalam dunia politik sering kali mendapat sorotan melebihi kontribusi politik mereka. Banyak suara perempuan yang dikritik karena “terlalu tinggi”, rok mereka dianggap “terlalu pendek”, dan garis leher mereka dianggap “terlalu terbuka”. Selain itu, norma-norma budaya dan peran gender tradisional masih sangat mengakar dalam masyarakat Uganda, sehingga membentuk persepsi mengenai perempuan dalam posisi kepemimpinan. Pandangan bahwa perempuan dibatasi pada peran gender yang didefinisikan secara sempit masih bertahan dari berbagai generasi, termasuk di kalangan anak muda Uganda yang tumbuh dalam rumah tangga yang patriarki.
Manifestasi lain dari peran gender tradisional adalah hambatan struktural yang dihadapi perempuan dalam mengakses sumber daya yang mereka perlukan untuk menjalankan kampanye politik yang sukses. Hambatan ekonomi yang dihadapi perempuan mencerminkan dan melanggengkan peran tradisional mereka yang subordinat dalam masyarakat, sehingga semakin meminggirkan partisipasi politik mereka (Martiny dkk., 2024).
Meskipun pengalaman-pengalaman ini menyoroti tekanan sosial yang signifikan yang dihadapi oleh para pemimpin perempuan, beberapa pihak tidak melihat tantangan dalam menyeimbangkan peran sosial sebagai hambatan yang signifikan. Banyak wanita kesulitan menyeimbangkan peran sebagai ibu dengan tanggung jawab profesional. Selain itu, dalam pemilihan umum partai baru-baru ini, sering kali ada pernyataan bahwa perempuan “terlalu emosional” untuk mengambil peran kepemimpinan dan mereka dianggap tidak layak untuk menduduki posisi senior. Sementara itu, perempuan yang menunjukkan rasa percaya diri dikritik karena dianggap “terlalu agresif” atau “terlalu ambisius”, atau “ratu pembunuh”, yang semakin melemahkan potensi kepemimpinan mereka.
Oleh karena itu, respons kebijakan yang beragam diperlukan untuk mengatasi dimensi struktural, teknis, dan sosio-kultural dari disinformasi gender. Di Uganda, badan pemilu dan regulator media dapat bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada pemberdayaan politik perempuan untuk mengembangkan pedoman guna mengidentifikasi dan mengatasi disinformasi gender selama pemilu. Pada akhirnya, politisi perempuan harus “bersikap tebal” untuk mengatasi tantangan-tantangan yang tidak pantas ini.
Dr.Nestor Barcemela
Surel: basemeranestor3@gmail.com
Miliki cerita atau pendapat dari komunitas Anda untuk dibagikan kepada kami: Kirimi kami email Kirimkan artikel
Contents
berita dunia
berita dunia hari ini
berita dunia terkini, berita viral dunia, berita bola dunia
, berita terbaru hari ini di seluruh dunia, berita terkini dunia, berita sepakbola dunia, berita dunia terbaru, berita dunia internasional
#Nestor #Basemela #Terlalu #ambisius #terlalu #radikal #atau #bunuh #ratu #Serangan #ancaman #dan #disinformasi #berbasis #gender #dalam #politik #Uganda