Prabowo mengambil tindakan tegas dalam menanggapi krisis Timur Tengah – Beragampengetahuan
Foto dari instagram.com/prabowo
Serangan sepihak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang mengancam perang regional yang merugikan di Timur Tengah, telah menarik perhatian pada langkah Jakarta untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian (BoP) yang dipimpin Presiden AS Donald Trump, yang menurut para kritikus terlalu dekat dengan Washington.
Meskipun kemarahan dalam negeri terhadap agresi AS-Israel cukup tinggi, tanggapan pemerintah Indonesia ditentukan oleh keengganan mereka untuk mengambil tindakan tegas dengan mengutuk serangan tersebut atau mengabaikan BoP – sebuah peringatan yang saya yakini dibentuk oleh persaingan tekanan di dalam dan luar negeri.
Dalam pernyataannya, misalnya, Kementerian Luar Negeri hanya menyatakan “penyesalan mendalam” atas eskalasi militer di wilayah kaya minyak tersebut dan meminta semua pihak untuk “menahan diri dan memprioritaskan dialog” untuk menyelesaikan perselisihan. Presiden Prabowo Subianto segera menawarkan diri untuk menengahi konflik tersebut dan mengatakan dia bersedia melakukan perjalanan ke Teheran untuk membantu meredakan krisis. Pemerintah kemudian mengumumkan penangguhan partisipasinya dalam BoP.
Meskipun tanggapan-tanggapan ini merupakan sinyal kekhawatiran masyarakat, semuanya jelas-jelas dirancang untuk menghindari konfrontasi terbuka dengan Washington. Hal ini mencerminkan tindakan penyeimbang yang paling penting di Jakarta: memenuhi ekspektasi domestik tanpa menimbulkan konsekuensi eksternal.
Respon masyarakat yang terfragmentasi
Pendekatan hati-hati yang dilakukan Prabowo terhadap krisis Timur Tengah telah menuai kritik dari anggota parlemen, organisasi Muslim, dan tokoh oposisi yang mengharapkan respons yang lebih kuat. Namun, suara-suara kritis tersebut belum diterjemahkan menjadi tuntutan yang jelas dan koheren.
Beberapa anggota parlemen di Komite I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang membawahi kebijakan luar negeri, meminta Jakarta untuk menarik diri dari BoP dan mengambil sikap lebih keras terhadap AS.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), satu-satunya partai oposisi di parlemen, mengkritik lambatnya respons Prabowo terhadap kematian Ayatollah Ali Khamenei, dengan alasan bahwa Indonesia telah gagal memberikan “kesopanan diplomatik dasar” kepada mitra dekatnya.
Organisasi-organisasi berbasis Islam juga telah menyampaikan kekhawatirannya, meskipun tidak dengan kebijakan yang sama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras serangan Israel dan AS karena dianggap tidak manusiawi dan bertentangan dengan semangat UUD 1945.
Muhammadiyah juga mendesak PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada AS dan Israel karena melancarkan serangan militer ke Iran. Hal ini juga mendorong pemerintah untuk meninggalkan BoP. Namun Nahdlatul Ulama (NU) mengambil sikap berbeda. Meskipun NU juga mengkritik serangan AS-Israel, mereka juga menyerukan Indonesia untuk menggunakan posisinya di BoP untuk mendorong deeskalasi dan membantu mengakhiri perang.
Para pengunjuk rasa jalanan juga menuntut berbagai hal, mulai dari penarikan diri dari BoP hingga pembatalan perjanjian perdagangan AS yang baru saja ditandatangani, yang menunjukkan bahwa mobilisasi anti-AS memang terfragmentasi.
Tekanan dalam negeri terhadap Prabowo untuk mengambil posisi yang lebih jelas dan kuat dalam krisis Timur Tengah jelas semakin meningkat. Namun pertanyaan ini belum diterjemahkan ke dalam satu pertanyaan yang jelas, yang dapat membantu menjelaskan perubahan parsial dalam pendekatan strategis Jakarta di Timur Tengah.
Sejauh ini, pemerintah telah mengatasi perlawanan dengan membendung perlawanan dan kemudian melakukan penyesuaian taktis, termasuk menunda perundingan BoP dan meningkatkan kontak dengan para pemimpin Islam.
Jelasnya, kemarahan publik saja tidak cukup untuk membawa perubahan besar dalam kebijakan luar negeri. Prabowo hanya akan bertindak jika tekanan dalam negeri mengancam stabilitas politik dengan melemahkan kesatuan koalisi atau legitimasi politiknya. Sejauh ini, tuntutan yang terfragmentasi telah memungkinkan pemerintah untuk mempertahankan pendekatan yang hati-hati dan tidak terlalu mengganggu.
Respons Prabowo yang terkalibrasi
Lebih khusus lagi, pemerintahan Prabowo menerapkan dua strategi untuk mengelola tekanan tersebut.
Pertama, mereka bertujuan untuk mengambil tindakan yang cukup untuk menunjukkan bahwa mereka tidak acuh terhadap kekhawatiran masyarakat namun gagal menerapkan perubahan kebijakan.
Pada tanggal 4 Maret, Menteri Luar Negeri Sugiono menghubungi duta besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, untuk mengirimkan surat kepada Prabowo yang menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Khamenei. Ini adalah pesan belasungkawa resmi pertama dari pemerintah Indonesia sejak kematian pemimpin tersebut pada tanggal 28 Februari. Meskipun beberapa pihak menganggap penundaan respons ini ironis, hal ini mungkin juga mencerminkan keengganan Jakarta untuk mengubah krisis ini menjadi konfrontasi dengan Washington.
Presiden Prabowo pun menawarkan jasanya sebagai mediator. Departemen Luar Negeri bahkan menyatakan presiden bersedia terbang ke Teheran untuk memfasilitasi pembicaraan antara AS dan Iran. Meskipun mendapat apresiasi dari perwakilan Iran di Indonesia, saran tersebut segera ditolak karena Teheran bersikeras bahwa “negosiasi tidak lagi dilakukan.”
Kebijakan ini menunjukkan bahwa Jakarta mengambil pendekatan yang sangat terlihat oleh khalayak domestik, namun membatasi keterpaparan pada khalayak internasional, khususnya Washington.
Kedua, persoalan ini masih bisa ditangani melalui konsultasi elit dan manajemen politik. Dalam konteks ini, pemerintah menyatakan bahwa partisipasi Indonesia dalam BoP saat ini “ditunda” karena eskalasi militer di Timur Tengah.
Pemerintah juga menyatakan keputusan tersebut diambil untuk memantau dinamika dan menjamin keselamatan WNI di wilayah tersebut. Sugiono mengatakan Jakarta akan berkonsultasi dengan mitra-mitranya di Teluk sebelum mengambil keputusan formal.
Prabowo juga meningkatkan bantuan kepada para pemimpin Islam. Pada tanggal 5 Maret, Prabowo menjadi tuan rumah pertemuan buka puasa dengan para pemimpin organisasi Islam di Istana Merdeka, Jakarta. Di antara yang hadir adalah tiga tokoh penting Islam dari PBNU, Muhammadiyah dan MUI.
Belum ada tanda-tanda Jakarta akan keluar dari BoP
Dalam pertemuan buka puasa tersebut, Prabowo menegaskan kembali janjinya bahwa Indonesia akan meninggalkan BoP jika tidak lagi melayani kepentingan Palestina atau Indonesia. Seperti keputusan untuk menangguhkan partisipasinya dalam BoP setelah pecahnya perang dengan Iran, retorika tersebut jelas dimaksudkan untuk membantu Jakarta mencegah masalah ini menjadi masalah besar dalam negeri.
Jakarta kemungkinan besar tidak akan meninggalkan BoP dalam waktu dekat. Pemerintahan Prabowo kemungkinan akan melanjutkan strateginya untuk menahan biaya politik jika bergabung dengan kelompok tersebut melalui penyesuaian taktis dan penjangkauan di dalam negeri, sambil menghindari biaya yang lebih tinggi dari konfrontasi terbuka di luar negeri.
Jakarta mungkin bisa menahan reaksi buruk tersebut untuk saat ini, namun melakukan hal tersebut melalui risiko penundaan taktis memberikan kesan bahwa Indonesia lebih bersedia menyalurkan kemarahan masyarakat daripada berbicara dengan jelas.
Pertanyaannya adalah: Apakah strategi tersebut akan tetap berhasil ketika biaya politik dalam negeri meningkat? Meningkatnya harga bahan bakar dan komoditas akibat terganggunya pasokan minyak global akibat perang dapat membuat tindakan penyeimbangan pemerintah yang rumit menjadi tidak dapat dipertahankan.
Contents
indonesian podcast
aplikasi podcast
podcast, podcast adalah, apa itu podcast, google podcast, arti podcast, podcast artinya, logo podcast, podcast spotify, background podcast, beragampengetahuan podcast, studio podcast
, cara membuat podcast di spotify
#Prabowo #mengambil #tindakan #tegas #dalam #menanggapi #krisis #Timur #Tengah