Mengungkap Kelas Menengah Perkotaan: Tren Konsumen dan Realitas Sosial Ekonomi di India

 – Beragampengetahuan
4 mins read

Mengungkap Kelas Menengah Perkotaan: Tren Konsumen dan Realitas Sosial Ekonomi di India – Beragampengetahuan

Tren Konsumen: Apakah Kelas Menengah Muda India Menjadi “Anak Hilang”?

Kelas menengah muda India sedang mencari keseimbangan antara konsumsi ideal dan kehati-hatian finansial, dengan tren konsumen yang menunjukkan sedikit pergeseran ke arah meminjam untuk memenuhi gaya hidup. Meskipun terdapat tantangan ekonomi seperti inflasi yang tinggi dan pertumbuhan yang melambat, 84% generasi milenial India memiliki ponsel pintar, yang menunjukkan keinginan mereka untuk mendalami industri kredit lebih dalam. Populasi ini mewakili dua pertiga populasi negara tersebut, sehingga hal ini menunjukkan dampak signifikan terhadap perilaku konsumen.

Inisiatif seperti Pay It Forward bertujuan untuk mengatasi kesenjangan literasi keuangan di kalangan profesional muda. Namun, meski memiliki akses ke sumber daya seperti MoneyControl dan aplikasi seperti Mvelopes dan Wally, banyak generasi Milenial yang masih berjuang dengan kebiasaan belanja impulsif yang didorong oleh tekanan teman sebaya dan pengaruh media sosial. Statistik mencerminkan tren ini, dengan 70% generasi Milenial India mengakui bahwa keputusan pembelian mereka dipengaruhi oleh media sosial.

Tingkat pengangguran kaum muda perkotaan di India menghadapi tantangan yang berat. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di kalangan pemuda berusia 15-29 tahun adalah 17,3%, yang hampir tiga kali lebih tinggi dari tingkat pengangguran keseluruhan sebesar 6,6%. Kesenjangan ini menyoroti betapa parahnya krisis ini, yang diperburuk oleh terbatasnya kesempatan kerja baik di sektor pemerintah maupun swasta.

Salah satu penyebab utama peminjaman dan utang di kalangan pemuda perkotaan adalah kurangnya kesempatan kerja yang sesuai dengan kualifikasi dan aspirasi mereka. Meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja belum berjalan dengan baik, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki kaum muda dan kebutuhan pasar tenaga kerja. Akibatnya, banyak orang menjadi setengah pengangguran atau berada dalam pekerjaan berbahaya dan berupah rendah, sehingga menyebabkan ketidakstabilan keuangan.

Lebih jauh lagi, hal ini semakin diperburuk oleh daya tarik dan tekanan dari gaya hidup perkotaan yang digambarkan di media sosial. Kaum muda sering kali merasa perlu untuk menjaga penampilan dan bersaing dengan rekan-rekan mereka, sehingga menyebabkan peningkatan pengeluaran untuk barang-barang konsumsi, perjalanan, dan pengalaman di luar kemampuan mereka. Keinginan untuk memenuhi harapan masyarakat dan mencapai standar hidup tertentu telah mendorong banyak orang untuk meminjam untuk mempertahankan gaya hidup mereka, sehingga memperburuk beban utang di kalangan generasi muda India.

Selain itu, kebangkitan gig economy, yang ditandai dengan kontrak jangka pendek dan pekerjaan lepas, telah menambah lapisan ketidakpastian finansial bagi kaum muda perkotaan. Meskipun menawarkan fleksibilitas, pekerjaan gig sering kali kurang memiliki stabilitas dan manfaat, sehingga membuat individu rentan terhadap fluktuasi pendapatan dan tidak mampu membangun ketahanan finansial.

Masalah ini semakin diperparah dengan kurangnya pengetahuan dan kesadaran finansial di kalangan generasi muda perkotaan. Tanpa pemahaman yang tepat tentang konsep-konsep seperti suku bunga, nilai kredit, dan pengelolaan utang, banyak orang secara tidak sengaja terjerumus ke dalam perangkap utang dan bergantung pada pinjaman berbunga tinggi dan kartu kredit untuk menunjang gaya hidup mereka. Siklus utang ini dapat dengan cepat menjadi tidak terkendali, sehingga menyebabkan dampak keuangan jangka panjang dan menghambat peluang pembangunan ekonomi.

Ketergantungan pada kredit telah menjadi landasan kegiatan perekonomian, terutama di kalangan kelompok berpendapatan rendah dan menengah. Pinjaman ritel, termasuk pinjaman tanpa jaminan, telah tumbuh secara signifikan, dengan data yang menunjukkan bahwa pinjaman tanpa jaminan kini mencapai 30% dari total aset yang dikelola perusahaan keuangan non-bank (NBFC) besar. Lonjakan konsumsi yang didorong oleh pinjaman telah mendorong pemulihan pola konsumsi India. Jumlah utang kartu kredit mencapai Rp 2,1 miliar pada Maret 2023, meningkat 28% dibandingkan tahun sebelumnya.

Individu memanfaatkan kredit dan skema EMI tanpa biaya untuk menikmati kemewahan tanpa langsung menghadapi tekanan finansial. Perilaku ini menyoroti daya tarik opsi pembayaran yang fleksibel dan keinginan untuk mempertahankan gaya hidup yang diatur dengan cermat. Namun, ada kekhawatiran mengenai keberlanjutan lonjakan pinjaman ini. Meningkatnya tingkat tunggakan kartu kredit dan gagal bayar pembayaran kartu kredit merupakan tanda bahwa peminjam mungkin menghadapi kesulitan keuangan. Regulator keuangan termasuk Reserve Bank of India (RBI) telah memperingatkan pemberi pinjaman tentang risiko yang ditimbulkan oleh tingginya pertumbuhan kredit di sektor ritel, dan menekankan perlunya praktik pemberian pinjaman yang bertanggung jawab.

Contents

kegiatan ekonomi



prinsip ekonomi

ekonomi kreatif, ilmu ekonomi adalah, pelaku ekonomi
, kegiatan ekonomi adalah, sistem ekonomi

#Mengungkap #Kelas #Menengah #Perkotaan #Tren #Konsumen #dan #Realitas #Sosial #Ekonomi #India

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *